Bimbing yang Bimbang

Pilpres 2014 ini begitu mengesankan. Sepanjang gue inget, belum pernah ada Pemilu yang sebegini RAMAInya. Gak sedikit orang2 yang mulai berani terbuka menyuarakan pilihannya. Buat orang Indonesia, berani speak up itu kemajuan luar biasa loh. Krn menurut pengamatan gue, kebanyakan org kita sungkan menyatakan pendapat dgn beragam alasan : gak enak sama teman lah, malu, gak yakin sama pendapatnya krn cuma ikut2an makanya gak berani menyatakan sikap, atau sekedar main aman.
Tapi kali ini udh banyak orang Indonesia yang ‘keluar dr cangkangnya’. Bisa jd ini awal Revolusi Mental yg digaungkan Pak Jokowi.

Anyway…..
yg jelas2 menyatakan dukungannya ke salah satu Capres, jumlahnya banyak. Tapi swing voters alias yang masih bimbang jumlahnya juga gak sedikit. Bahkan masih ada juga yg sptnya mau golput.
Dengan segala riund rendah masa kampanye ini, informasi yg banyak & media yg diragukan obyektivitas nya, gue ngerti banget kalo yg bimbang mungkin malah jd tambah bingung. Atau malah jd mikir utk golput aja.

Ijinkan gue lewat tulisan ini utk mengajak kamu yg masih bimbang utk melihat dr sudut yg lain. Kita gak usah ngomongin program kedua capres deh. Gak usah juga ngomongin soal isu atau fitnah yg menyebar. Gak usah juga liat masa lalu deh, krn toh kebanyakan pemilih ternyata gak tau sejarah kelam orde baru kan?

Gue mau ngajak kalian yg masih bimbang utk melihat dr sudut pandang keberdayaan.

Heh? Apa itu? Istilahnya gue ngarang sih. Tapi intinya gini, kamu pasti bisa melihat betapa banyaknya karya2 kreatif yang dibuat dgn sukarela dr beragam kalangan utk mendukung Pak Jokowi-JK.
Mulai dari tukang becak yg mengayuh becak dr Jogja ke Jakarta demi Pak Jokowi, atau SLANK dan teman2 musisi lainnya yang menggaungkan lagu salam 2 jari .

banyak sekali bermunculan video2 singkat, poster, kaos, dan atribut kampanye yg menyatakan dukungannya utk Pak Jokowi-JK. karya kreatif itu muncul bukan krn komando dr Tim Sukses. Tau dr mana? Karena keliatan banget, sumbernya terlalu sporadis. Munculnya gak beraturan, pesan yang disampaikannya pun beragam. Tidak ada yg seragam. Gue terkesan banget, kok bisa ya semacam
ada virus kreativitas yg menular cepat di kalangan pendukung JKW?

Satu hal lg yg belum pernah ada di Indonesia. Pak JKW-JK membuka rekening dana gotong royong. Masyarakat diajak menyumbang dana kampanye. Nantinya sumbangan itu akan diaudit dan akan ada laporannya.

Gak sedikit masyarakat yg penghasilannya pas2an, rela menyisihkan uangnya untuk disumbangkan ke JKW-JK. Bukan sekedar sumbangan uangnya, tapi ini adalah simbol mereka menitipkan harapan akan Indonesia yg lbh baik pada JKW-JK.

Biasanya kita kan liatnya pejabat tuh ya modal kampanyenya dr dikumpulin dr koalisinya lah. Kita rakyatnya ya gak tau apa2. Sumber duitnya dr mana, siapa aja yg modalin pejabat itu. Ya pokoknya mereka asik sendiri lah, kita ya cuma dirayu buat milih, tapi jd penonton lah. Bukan bener2 jd bagian dr pejabat itu.

Apa yg dilakukan JKW-JK memang beda dr yg pernah ada. Selama kampanye, peran partai pendukung pun bisa dibilang tidak dominan. Dukungan malah lbh banyak yg mengalir secara organik & spontan. Kali ini rakyat diajak berkoalisi. Kita diajak berdaya, kita diajak utk jd bagian dr JKW-JK.

Buat gue, hal2 tadi semakin menguatkan pilihan gue utk mempercayakan suara gue kepada Pak Jokowi & Pak JK.

Teman-teman yang masih bimbang, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa membangkitkan banyak hal baik dr orang2 yg dipimpinnya.
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yg berjalan bersama kita, bukan berada di kasta yg berbeda dan sekedar memberi perintah.
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa membuat rakyatnya merasa berdaya.
Pemimpin itu di mata saya adalah Pak Jokowi & Pak JK.

Salam 2 Jari ✌️

Advertisements

Agama

Di koran, media online, TV, twitter, Facebook, path, hamper semuanya ngomongin soal PilPres.

Heits!

Jangan suudzon dulu. Gue nulis postingan ini bukan untuk mendukung salah satu calon. Ada satu hal yang bikin gue terusik sih…soal agama.

Kalian pasti sadar kan, isu agama dijadiin salah satu amunisi untuk kampanye. Baik untuk menjatuhkan pihak lawan, atau untuk melegitimasi. Segala rupa fitnah berbungkuskan agama juga hadir di sana sini. Salah satu isu yang santer adalah, salah satu kandidat diisukan bukan beragama Islam, dipertanyakan lah Islamnya. Bahkan gue pernah kok dapet mention di twitter yg bunyinya mencerca tata cara berwudhu bahkan cara sholat seorang capres. Kemudian kandidat lainnya dipertanyakan karena kok tidak pernah terlihat dia jadi Imam Sholat?

Tauk deh, tapi kok gue pribadi merasa risih dengan isu ini. Gue menahan diri banget untuk gak mau ikut keseret komentar soal ini. Masalahnya ini agama. Yang menurut pandangan gue, adalah hal yang amat sangat pribadi sifatnya. Siapa kita sampai bisa menghakimi keimanan seseorang? Apa kita tau gimana isi hati seseorang yang sebenarnya saat dia berkomunikasi dengan Tuhan? Tata cara ritual yg salah di mata kita, bukan serta merta pasti salah di mata Tuhan. Sebagai seorang Muslim, gue selalu diingatkan : yang penting itu nawaitu . Niat. Gue percaya banget itu adalah landasan segalanya. Apa artinya kesempurnaan gerak gerik tanpa landasan niat yang baik?
Orang yang terlihat melakukan ritual, belum tentu spiritual. Yang beneran spiritual belum tentu bisa rajin melakukan ritual.

Betapa mengerikannya, jika kita menghakimi atau mempertanyakan keimanan seseorang…eh ternyata sebenarnya kadar keimanan orang itu jauh lebih baik dari kita. Apa gak fitnah namanya? Dosanya, jadi kita yang nanggung.

Sebagai seorang mualaf yang masih terus belajar soal Islam, dan pernah dicap sebagai Islam KW…gue emang gak tau banyak sih. Baru dikit banget ilmunya lah. Cupu. Tapi gue bener2 bisa mengerti apa yang orang bilang bahwa agama itu sangat pribadi sifatnya. Karena gue ngerasain sendiri, ketika gue sholat pertama kalinya…kemudian sujud. Getaran qolbu itu hanya bisa dirasakan oleh gue sendiri. Betul, gue bisa ceritain. Tapi gak akan ada kata yang tepat untuk bisa gambarin betapa luar biasanya momen itu.

Saat itulah yang membuat gue berpikir 2 kali sebelum ikut2an menghakimi keyakinan seseorang. Plus kata2 Alm. Papa yang selalu nempel di kepala :

Kalau kamu jalanin agama kamu dengan sungguh-sungguh, gak akan ada waktu untuk menghakimi agama orang lain.