Sportif

Kurang lebih sudah 10 tahun gue jadi host motoGP di Trans7. Banyak hal yang berubah, banyak hal yang gue pelajari. Setiap tahun, gue mengevaluasi apa yang bisa gue lakukan untuk bisa jadi host yang lebih baik. Dari segi knowledge tentu harus semakin mendalami. Dari segi teknik presenting harus semakin informatif, menghibur dan obyektif. 

Tapi selama hampir 1 dekade ini, gue hampir tidak pernah lepas dari komentar negatif beberapa orang yang (mengaku) fans fanatik rider tertentu. Gue bilang beberapa karena memang gak banyak. Alhamdulillah jauh lebih banyak penonton motoGP yang memberikan apresiasi positif untuk gue. Tapi justru yang sedikit ini membuat gue berpikir…

Kata2 (yang menurut mereka) kritik dilontarkan tiap mereka merasa apa yang gue atau Matteo sampaikan tidak sesuai dengan apa yang mereka (ingin) dengar.

Contohnya yang paling hangat ya pas #FrenchGP di Le Mans kemarin. 

Matteo sama Lucy nih ketauan banget belain Rossi. Sama Lorenzo aja sentimen banget

Padahal gue yakin 100% kalau kita berdua tidak melakukan itu. Kenapa? Karena sejak FP 1 sampai kualifikasi, Rossi memang tampil buruk & hal itu kita bahas. Lawong Rossinya aja pas post-race interview juga mengakui kalo dia memang gak bagus. Sementara Lorenzo benar-benar maksimal & mendominasi. Bahkan gue inget banget pas on-air Matteo bilang :

Perfect weekend untuk Lorenzo & dia pantas untuk menang

Jadi bagian mana yang ngebelain Rossi banget? 

Kemudian ada juga yang mention gue di twitter, katanya gak terima Lorenzo dikatain sama sebuah akun fans Rossi. Padahal fan base Rossi yg gue kenal baik gak bad mouthing siapa-siapa. 

Inti permasalahan dari semua cerita di atas adalah : F A N A T I S M E. 

Semua yang suka motoGP pasti punya rider favorit. Bahkan gak sekedar favorit, tapi fanatik. Fanatisme terhadap seorang rider sebetulnya hal yang sangat wajar. Tapi fanatisme itupun bisa jd sumber penyulut emosi. Fanatisme membuat seseorang sulit melihat sesuatu dr sudut pandang yang obyektif. Parahnya, orang lainpun dianggap salah…bahkan dianggap musuh jika punya pendapat yang dianggap merugikan idolanya. Padahal belum tentu. Bisa jadi yang diungkapkan sesungguhnya benar, tapi fanatisme menutupi obyektifitasnya. 

Betul. Apa yang ada di pikiran orang lain, tidak bisa kita duga apalagi kita kontrol. Adalah hak para fans untuk membela rider idolanya meskipun mungkin dengan mengeluarkan pendapat yang tidak obyektif atau standar ganda. Yah…kalo sekedar gak obyektif sih gak papa deh. Yang gue sulit memahami adalah, kenapa harus sampai memaki rider lain, memusuhi komunitas yang berseberangan atau bahkan memaki pemandu acara olahraganya? 

Eh soal dimaki sih gue udh biasa & gak pernah gue masukin hati juga. Anggep aja ladang pahala gue. Tapi, untuk para fans yang senang sekali mengeluarkan emosi negatif…pertanyaan gue cuma 1 : emangnya gak capek? 

Speaking badly about other riders will not make your favorite rider won the world championship & certainly will not make you a better person. 

Atau jangan-jangan, ngomongin hal negatif itu demi memuaskan ego diri sendiri? 

Seperti yang kalian tahu, gue fans berat Valentino Rossi. Tapi di saat gue tampil di TV, gue berusaha semaksimal mungkin untuk bisa obyektif. Kalau gue bela mati & gak obyektif, ngapain gue selalu bilang kalo Rossi start nya gak sekuat Lorenzo? Ngapain gue garisbawahi kesalahan strateginya saat kualifikasi di #FrenchGP ? Mestinya gue cari pembenaran dari segala sisi. Ngapain gue muji Lorenzo & Marquez bahkan Viñalez?

Pun gue sudah berusaha seobyektif mungkin, gue mendapat kritik : 

OOOOO..Jadi sekarang udh beralih dari Rossi ke Lorenzo? Ke Marquez juga? 

 YAELAH BROOOOO! 

Gitu aja terus sampe tahun baru kuda. 

Ini yang gue maksud dengan fanatisme itu membuat kita memfilter utk mendengar apa yang ingin kita dengar. Bukan yang sebenarnya. Fanatisme seperti memberi legitimasi untuk memaki, membenci yang tidak sepaham dengan kita. Padahal ini motorsport. Olahraga. Yang konon idealnya dilakukan dengan penuh sportivitas. Yang sebetulnya gak berhenti hanya di ridernya aja sih, tapi sampai ke kita..para fansnya. 

Balik lagi, semua punya pilihan masing2. Tapi gue merasa nonton motoGP jd semakin menyenangkan kalau hati kita juga gak panas, gak cela2an atau berseteru dengan fanbase rider lain.

Bisa? Bisa banget. Karena gue sudah membuktikannya. Dari beberapa fanbase rider yang gue kenal baik, mereka bisa kok ngobrol baik2 dan bahkan saling support. Saat meet up pun kita bisa seseruan sambil ketawa2an. 

You can show your support to your favorite rider  yet still show some respect towards other riders. Put aside all the negativity & enjoy the race. 


Advertisements

#motoGP 2015

Satu lagi musim #motoGP gue lewati bareng Trans7. Kayanya musim 2015 ini adalah ke-8 kalinya gue jd host di Trans7.

Dari sekian pengalaman siaran #motoGP di Trans7, tahun ini adalah yang paling berkesan buat gue. Ya iyalaaaah! Di tahun inilah gue bisa mewujudkan mimpi untuk ketemu langsung dengan rider-rider hebat di kelas moto3,moto2 dan motoGP tentunya.

Gue bisa merasakan sendiri indahnya sirkuit Phillip Island di Melbourne-Australia. Ikut menjadi bagian keseruan jurnalis internasional meliput balap motor paling bergengsi di dunia ini. Efeknya ke gue? gue jadi semakin cinta dengan dunia motoGP. Tentu jd pengen ngeliput di lapangan terus sih 😜

Untuk pertama kalinya juga Trans7 akhirnya bisa melaporkan langsung dari sirkuit. Bukan cuma lewat telpon, tapi pemirsa bisa melihat langsung gue melaporkan dari salah satu sudut sirkuit sekaligus dari depan podium Phillip Island. Kesempatan luar biasa buat gue.Tahun 2015 ini ditutup dengan siaran bareng Matteo Guerinoni lagi untuk motoGP award 2015.

Terima kasih banyak utk semua tim motoGP Trans7 untuk kerja kerasnya selama musim 2015 ini. Salut untuk Pak Produser, Tim Kreatif, Editor, Camera Person, Komentator handal Joni Lono Mulia & presenter quiz si cantik Claudia Soraya dan semua yang terlibat. Semoga kita bisa kerjasama lagi di motoGP 2016.  

    
   

#TheGrandFinale

Setelah semua drama #SepangClash akhirnya #ValenciaGP menobatkan Jorge Lorenzo sebagai juara dunia motoGP 2015 . 

Lorenzo memang telah menunjukkan dominasinya sejak di FP sampai kualifikasi. Bahkan dia mencetak fastest lap 1:30.011 di Q2.

The best lap of my life

Begitu kata Jorge. Ironisnya, di saat Jorge tampak begitu santai dan yakin menang…Rossi justru jatuh saat Q2 

Sejak mengamati Rossi di FP Jumat, gue kagum sih. Keliatan sekali dia berusaha keras untuk mendapatkan set-up motor yang optimal. Set-up memang sangat penting  utk race di Valencia karena dampaknya adalah ke efisiensi ban. Tapi sayangnya Rossi harus mengakhiri sesi Q2 dengan low-side. 

IT’S THE RACE DAY! FINAL RACE OF THE SEASON! 

Gak biasa-biasanya banyak jurnalis berkumpul di grid belakang. Biasanya posisi front row lah yang banyak disorot. Penyebabnya Valentino Rossi. Semua mata memang tertuju pada Jorge Lorenzo & Valentino Rossi. Mungkin Rossi ceritanya lbh menarik karena dengan keuntungan 7 poin di atas Jorge sebelum #TheGrandFinale , di race pamungkas ini The Doctor akibat akumulasi penalti poin harus start di posisi 26. 

Melihat catatan waktu sampai Q2, di atas kertas udh pas gelar juara dunia 2015 menjadi milik Jorge. Dia pole position, strong starter & konsistensinya luar biasa. Vale? Dia harus melewati banyak rider. Meski gue fans Rossi tapi berdasar performance.. 99,9% gelar juara milik Jorge. 

Benar saja, saat race dimulai Jorge lgs melesat dengan dibayangi duo Honda : Marquez & Pedrosa. Kamera lbh sibuk menyorot perjuangan Rossi yang startnya sangat baik di race final ini. 7 rider langsung dilewati. Satu demi satu rider di-overtake. Sampai akhirnya Rossi sampai ke posisi 4. Sayangnya, gap antara Rossi dan Pedrosa yang di posisi 3 saja sudah sangat jauh. Mustahil utk terkejar. Beda ceritanya kalau race ini terjadi di era motoGP yg belum secanggih skrg elektroniknya. 

Rossi hanya bisa bertahan di posisi 4. Sementara di top 3, Pedrosa memang sempat drop lap times nya karena katanya sih menyimpan ban. Marquez jadi rider yang sangat manis, berbeda sekali dengan gayanya di Sepang yang begitu agresif. Sebetulnya Marquez yang gue tau, selalu punya determinasi tinggi untuk menang. Bahkan lap times nya pun lbh baik dr Lorenzo di lap-lap akhir. Tapi akhirnya keluar juga sih ciri khas Marquez yg balapnya ‘galak’, tepat ketika Pedrosa ingin melakukan overtake dan mendekati Marquez bahkan Lorenzo…tapi dengan sigap Marquez menutup jalurnya. Tapi mungkin aja Marquez mengikuti unwritten rule yg konon mengatakan utk menghormati rider yg sedang race utk gelar juara dunia. 

Akhirnya Lorenzo finish di podium tertinggi sekaligus mengukuhkan diri jd juara dunia motoGP musim 2015. Ini adalah gelar juara dunia ke-3 utk Lorenzo. Vamos Jorge! 

  
pic courtesy of : Jorge Lorenzo official twitter account

Melihat lap times & manuver ke Pedrosa, jujur gue berpikir : apa Marquez mengawal Lorenzo? Yatapi lap times kan cuma data yang gak bisa membuktikan apa2. Pasca race, Rossi menggelar press conference & menyatakan kekecewaannya terhadap Marquez : 

http://www.foxsports.com/motor/story/motogp-valentino-rossi-valencia-reaction-marc-marquez-110815

Tidak sedikit orang yang melihat keanehan di #TheGrandFinale ini. Banyak komen yang seakan memojokkan Marquez, tapi ada juga komen yang mengkritik Rossi seakan ingin menyatakan bahwa dia adalah sore loser. 

Sepang aja sampe skrg masih rauwis-uwis debatnya. Masa nambah materi debat lagi? Mana yang benar?  Tidak ada yang tau. Bisa jadi tuduhan Rossi pasca race benar, bisa juga tidak. Mestinya Rossi bisa menahan diri? gak usah ngomong seperti itu? Menurut gue…haknya Rossi utk menumpahkan kekesalan, sama halnya Marquez juga punya hak utk race dgn gaya apapun dan dengan motif apapun. Kita adalah penonton yang masing2 punya penilaian yang bisa jd obyektif atau sangat subyektif. Apakah #TheGrandFinale tontonan yang seru, antiklimaks, memalukan, menyedihkan atau membanggakan? Semua tergantung pandangan masing2 dan kita tidak bisa memaksakan pandangan kita ke orang lain.

Sama juga dgn tanggapan penonton. Gue pun meski sudah sangat berusaha netral, tetap mendapat beberapa hujatan karena dianggap gak netral, bahkan dapet makian kasar. Padahal gue paham banget masing2 rider punya fans fanatik yg gampang panas…makanya gue selalu hati2, tapi ya nyatanya masih aja ada yg kasar mulutnya. Silakan aja sih mau berpendapat apa, mau memaki juga boleh. Toh yang memaki juga gak akan mendapat apa2 kok, gak akan bikin dirinya lbh baik juga dr yg dihujat. Rasa kemenangan kecil yang didapat dari menghujat cuma sesaat kok, sisanya cuma hati yg selalu panas dan gak tenang krn penuh rasa benci. Akhirnya? Capek sendiri…

Gue lbh memilih utk melihat sisi baik #ValenciaGP .Capek sendiri kalo terus menerus membungkus hati dgn rasa marah & kekesalan plus ngajak berantem orang yang dianggap gak sepaham pemikirannya. Gue lbh suka melihat kerja keras Valentino Rossi merangkak dr posisi 26 sampai akhirnya sampai di posisi 4. 

He showed us that he’s a real fighter. He inspired me to never stop trying no matter how hard things are.

Ternyata gue bukan satu2nya yang mengagumi kerja keras Rossi di #TheGrandFinale . Tapi ternyata banyak sekali orang yang mengagumi usahanya di hari itu. 

You are the people’s CHAMPION,Vale! 

There’s much more dignity in defeat than in the brightest victory -Phoenix-

  
Pic courtesy : Yamaha Indonesia 

   
    
 

Valencia Expectation 

Selain Joni Lono, orang yang pengen banget gue ajak berdiskusi soal #SepangClash adalah Matteo Guerinoni. Sebenernya udah berkali-kali janjian ketemu tapi pas gak cocok terus waktunya. Eh malah pas gak janjian malah ketemu. 

Jadi apa isi perbincangan kita? Hmm…yaaa ini sih udah jelas obyektifitasnya diragukan. Hahahahahha. Manalah diskusinya bukan di TV, jadi bebaaaass! 

Pendapat Matteo pribadi sih poinnya ini : 

1. Rossi salah karena seharusnya bisa jaga emosi 

2. Marquez kacau sekali dan provokator. Ambisinya Marc membawa dia jadi sirik 

3. Race direction seharusnya mengkumpul riders tersebut sebelum race dan kasih warning supaya waspada. Suasana dari Philip Island sudah panas dan tensinya tinggi.

*ini gue copy paste langsung dari Matteo*

Kita banyak juga bahas soal tulisan media-media Italia, tentu Matteo yang jadi penerjemah

Tapi kesimpulannya adalah : kita berdua sepakat  bahwa….

Rossi akan bertarung 110% di Valencia. 

Gue pribadi sih gak ngarep lah Rossi bisa jd juara dunia, karena memang udah tipis banget harapannya. Tapi yang gue harapkan dia bisa tampil dengan sangat maksimal. Karena toh gak ada beban kan? Start dr paling belakang, usaha aja semaksimal mungkin. Just have fun on this finale. He has nothing to lose. 

Gue pun udah yaaaa biasa aja. Mau ada teori konspirasi kek, rumor ini itu kek. Siapa duluan nyenggol siapa kek, yang jelas ini adalah balapan..apapun bisa terjadi di sini. Gue cuma mengharapkan Rossi bisa memberikan kemampuan terbaiknya di Valencia & menutup musim penuh drama ini dengan spektakuler. 

You opened this season with a superb performance at Losail, now let’s end it with a BANG! I still believe in you,The Doctor!  

 

Quick Fact After Sepang

Guys, berikut gue rangkum beberapa fakta singkat pasca #SepangClash . Gunanya untuk acuan informasi aja sih.

*Race direction memberikan penalti 3 poin untuk Valentino Rossi. Sebelumnya Rossi sudah punya 1 penalti poin yang diberikan saat race di Misano. Dengan akumulasi penalti poin ini menurut peraturan, Rossi harus start dari grid terbelakang di seri selanjutnya yang adalah Valencia.

*Petisi yang beredar untuk mencabut sanksi Valentino Rossi tidak akan merubah keputusan yang sudah dijatuhkan. 

*Yamaha sudah mengajukan banding untuk sanksi ini tapi ditolak. 

*Penalti poin tidak mempengaruhi klasemen sementara #motoGP . Sampai post ini ditulis, Rossi masih memimpin dengan selisih 7 poin dari Lorenzo. 

*Rossi tidak pernah mengatakan bahwa dia tidak akan turun di Valencia, dia juga tidak mengancam akan memboikot seri terakhir tersebut. Tidak ada pemboikotan.

*Lewat account twitternya, Rossi menyatakan bahwa dia dan timnya sedang mempersiapkan diri menghadapi  Valencia https://twitter.com/ValeYellow46/status/658973235644637184

Itu fakta penting yang perlu diluruskan ya.

Kita duduk manis aja menunggu 8 November 2015 untuk #motoGP finale. 

#SepangClash versi Bahasa Indonesia

Jadi ya guys, kenapa gue awalnya nulis postingan dengan bahasa Inggris karena mau menyertakan quotes dr Mike Webb (race director motoGP) & Valentino Rossi. Supaya nyambung gitu loh. Tapi gue akan coba menuliskan lagi pendapat gue pribadi dengan bahasa Indonesia.

Sebetulnya memerlukan keberanian juga sih untuk menulis postingan ini, karena gue paham sekali bahwa mungkin saat ini baik fans Valentino Rossi, Marc Marquez bahkan mungkin Jorge Lorenzo sedang mudah sekali tersulut emosi. Yah gimana enggak, kemaren pas kejadian aja di on air gue bilang untuk sabar sambil menunggu hasil penyelidikan race direction, udh ada yg mention gue di twitter dgn tuduhan gue lbh belain Rossi karena terkait sponsorship. Lah kalo bener krn sponsor sih justru gue belain Rossi banget. Lawong hasil penyelidikannya aja belum ada, masa udh berpihak? Yaaa tapi anggep aja yang komen begitu, karena lg kurang piknik deh 😁

Oke. cukup preambule nya ya…

Mike Webb, race director motoGP mengungkapkan hasil penyelidikan #SepangClash . Setelah melihat rekaman video dari berbagai angle & mendengar langsung dari Rossi & Marquez, disimpulkan bahwa :

*Kedua rider punya kontribusi atas kejadian ini.

*Manuver yang dilakukan Marquez memang agresif atau mungkin bisa dianggap memprovokasi, tapi semuanya dilakukan dengan tidak melanggar peraturan apapun

*Rossi memang terprovokasi dan memang ingin membuat Marquez melebar (bukan sengaja ingin menjatuhkan)

Itu 3 kesimpulan penting yang diungkap, lengkapnya bisa kalian baca di crash.net

Poin di klasemen sampai saat ini tetap sama. Tidak ada pemotongan poin, Rossi masih memimpin 7 poin dr Lorenzo. Rossi diganjar penalti 3 poin. Karena sudah ada 1 poin sebelumnya dari seri Misano, jadi dengan akumulasi tersebut menurut peraturan Rossi harus start di grid terbelakang di seri selanjutnya. Yang adalah Valencia, yang adalah seri penentu juara dunia motoGP musim 2015. Sungguh sebuah antiklimaks buat gue, akhir yang sedih. 

Sejujur-jujurnya, kalian pasti juga udah tau kalo gue adalah penggemar Valentino Rossi. Sejak Marquez menunjukkan agresivitasnya ke Rossi, gue udah deg-degan. Udah tau lah pasti ini akan ada yang DNF. Saat itu pula ingatan langsung melayang ke pre-event press conference Kamis lalu, saat Rossi melemparkan tuduhan bahwa Marquez ‘membantu’ Lorenzo untuk jadi juara dunia musim ini. Di saat otak gue sedang menerka apa yang akan terjadi…Marquez terjatuh. Liat dari replay, sekilas terlihat Rossi seperti menendang Marquez. Saat ini gue juga langsung mikir : Kok Rossi gitu? Iya…itu reaksi gue saat itu.Jujur.

Kemudian, gue mulai coba untuk melihat dari berbagai sudut pandang. Buat gue, segimanapun kita mengidolakan seseorang tentu mesti berusaha untuk melihatnya seobyektif mungkin. Susah sih, karena akan jauh lebih gampang untuk mengikuti emosi dan menyalahkan salah satu pihak dan jelas yang disalahkan (biasanya) bukan sang idola.

Menurut gue, apa yang dilakukan Marquez secara teknis memang tidak salah. Sependapat dengan Mike Webb, apa yang dilakukannya memang tidak melanggar aturan apapun. Trus, gimana kalo memang dia ternyata bener bantuin Lorenzo seperti yang dituduhkan Rossi? Kita bisa aja bilang gak sportif, curang atau apapun…tapi mari dipikir lagi dengan jernih. Apapun motivasinya Marquez, siapa yang bisa melarang? Apa yang ada di kepala masing-masing rider saat balapan terjadi, hanya mereka sendiri yang tau. Bagaimana hubungan antar rider di luar track juga mereka sendiri yang tau pasti. Fans nya Rossi boleh aja menganggap Marquez tidak sportif, tapi nyatanya pihak motoGP tidak menganggap tindakannya menyalahi aturan. Mungkin memang memprovokasi, tapi tidak aturan yang dilanggar.

Apa benar Rossi dengan sengaja ingin menjatuhkan Marquez? Silakan koreksi kalau gue salah, tapi Rossi bukanlah seorang rider yang dikenal punya ciri khas riding style yang membahayakan rider lainnya. Beda dengan Almarhum Simoncelli yang memang masih lekat di ingatan kita betapa nekatnya dia ketika berlaga di track. Yaaa bukan berarti Rossi gak bikin rider lain gerah sih… tuh…dapet salam dari Biaggi! Hahahha….

Malahan Marquez di tahun 2013 pernah mendapat kritik keras dari Lorenzo soal riding style nya yang membahyakan rider lain. Silakan baca artikelnya –>  http://www.autosport.com/news/report.php/id/110271 .

Dalam press conference pasca race, ini yang dikatakan Rossi :

“Marquez knows it wasn’t red mist that caused the incident. It’s very clear from the helicopter footage that I didn’t want to make him crash, I just wanted to make him lose time, go outside of the line and slow down, because he was playing his dirty game, even worse than in Australia. When I went wide and slowed down to nearly a stop, I looked at him as if to say ‘what are you doing?’. After that we touched. He touched with his right underarm on my leg and my foot slipped off the foot peg. If you look at the image from the helicopter it’s clear that when my foot slipped of the foot peg, Marquez had already crashed. I didn’t want to kick him, especially because, if you give a kick to a MotoGP bike, it won’t crash, it’s very heavy. For me the sanction is not fair, because Marquez won his fight. His program is OK because he is making me lose the championship. The sanction is not good, especially for me, because I didn’t purposefully want to make him crash, I just reacted to his behaviour, but I didn’t kick him. You can’t say anything in the press conference, maybe it changes something, but to me this was not fair, because I just want to fight for the championship with Jorge and let the better man win, but like this that’s not happening. Like I said, I didn’t want to make Marquez crash, but I had to do something because at that moment Jorge was already gone. The championship is not over yet, but this sanction cut me off by the legs and made Marquez win.”

Kata-kata : Marquez win, bikin gue patah hati. Rossi pun bilang bahwa penalti 3 poin itu seperti memotong kakinya dan membuat Marquez menang.

Yamaha juga sudah mengajukan banding atas sanksi yang memberatkan Rossi ini, tapi ditolak. Silakan baca juga tanggapan Lin Jarvis atas kejadian ini. Menarik banget sih : http://www.motogp.com/en/news/2015/10/25/sepangclash-jarvis-reacts/188527

Mungkin benar, jika dilihat dari sudut heli-cam ceritanya beda. Tapi dari video yang paling banyak beredar,menempatkan Rossi di posisi yang sulit. Gak sedikit orang yang mungkin awalnya mengidolakan Rossi, jd berbalik menghujat. Sekali lagi, Rossi adalah target empuk saat ini. Posisinya benar-benar tidak menguntungkan.

Jadi mana yang benar? Buat gue..ini benar-benar hanya Marquez dan Rossi yang tau, Video dari angle manapun nampaknya akan sulit untuk memecahkan misteri ini. Gue tidak bisa menghujat Marquez, tidak bisa juga mendadak kehilangan respek terhadap Valentino Rossi.

#SepangClash left me numb

The penultimate round. That’s what everyone said about #MalaysianGP .

Rossi came to Sepang with an advantage 11 points ahead Lorenzo. All eyes are on these two amazing riders. The tension is in the air. Well actually, I could sense the tension all the way from round 16 in Phillip Island. Especially from Rossi. From what I saw, The Doctor is not as playful & relax as usual but he tried to look casual. But I can tell he was under a lot of pressure. 

Started the 2015 season with a superb performance in Losail, Rossi is a strong contender to be The World Champion for the 10th time. As his fan, I’m so happy to see his doing quite well race after race. Until…..

Misano

Personally I was so sure that Misano is going to be the circuit where Rossi will gain 25 points. To secure his spot at the top. But turned out, the race result was not as I expected. It was a flag to flag race due to track’s changing conditions. Marquez won the race. Rossi was in 5th position. Truth is, this is where my gut told me that things might get a little harder for him to clinch the title. 

And now here we are..hours after witnessing the most intense motoGP battle. The tension sparked on Thursday when Rossi accused Marquez was helping Lorenzo in Phillip Island. Both Spaniard denied the accusation. On FP sessions Rossi looked very iritated with Marquez being around him. The climax of the Sepang drama happened on race day. 

The intense battle between Rossi & Marquez left my heart pounding. Until the incident…well I don’t know if that’s the correct  word for it. But yeah..you know what I mean…

I was speechless. Yes,I want Rossi to clinch The World Champion for the 10th time. I really do, but I think what he did was very unnecessary. 

Let’s (try to) be fair & objective. Let’s just say that maybe..just maybe the accusations were true. That Marquez was helping Lorenzo to clinch the title, hence the aggressive riding towards Rossi. Yes..as a Rossi fan, I didn’t  like to see that kind of aggressiveness. But just like Mike Webb, the race director said

We heard from both riders. Marquez told us that he was just riding his normal race and minding his own business, making passes on Valentino without contact. Which is true. And that he had no intention of disturbing Valentino. 

“Valentino on the other side said it was clear to him that Marc was deliberately slowing down the pace and making it difficult for Valentino to race. That he deliberately ran wide in the turn in order to give himself an advantage in order to get away from Marquez. 
“Finally, we actually believe there is fault on both sides. 
“Despite what Marquez said we think he was deliberately trying to affect the pace of Valentino. However he didn’t actually break any rules. Whatever we think about the spirit of the championship, according to the rule book he didn’t make contact. His passes were clean. He rode within the rules. 
“Valentino reacted to what he saw as provocation from Marquez and unfortunately his reaction was a manoeuvre that was against the rules. It’s irresponsible riding causing a crash. We believe the contact was deliberate. He says he did not want Marquez to crash, but he did want to run him wide.” 

-Fault on both sides
-Technically Marquez didn’t break any rules, his passes were clean

-Rossi was provoked & he did want to make Marquez run wide

What’s inside my head? This is the truth.Yes, I was furious to see what Marquez did to Rossi. For a moment there, I really thought the accusation was true. But..IF it was true, it’s Marquez right to do so. It might not be a pleasant behavior but once again he didn’t break any rules. We never know what’s inside the rider’s head when he’s on the track, right? Who can really know for sure what his motives are. Then again, he was aggressive (maybe even deliberately provoking) but he’s doing it without breaking any rules. 

That puts Rossi in a very tough spot. He was given 3 penalty points & since he already has 1 penalty point, The Doctor has to start the season finale from the back of the grid. 

Devastated.

Just got a quote from Rossi after the race from the press conference:

“Marquez knows it wasn’t red mist that caused the incident. It’s very clear from the helicopter footage that I didn’t want to make him crash, I just wanted to make him lose time, go outside of the line and slow down, because he was playing his dirty game, even worse than in Australia. When I went wide and slowed down to nearly a stop, I looked at him as if to say ‘what are you doing?’. After that we touched. He touched with his right underarm on my leg and my foot slipped off the foot peg. If you look at the image from the helicopter it’s clear that when my foot slipped of the foot peg, Marquez had already crashed. I didn’t want to kick him, especially because, if you give a kick to a MotoGP bike, it won’t crash, it’s very heavy. For me the sanction is not fair, because Marquez won his fight. His program is OK because he is making me lose the championship. The sanction is not good, especially for me, because I didn’t purposefully want to make him crash, I just reacted to his behaviour, but I didn’t kick him. You can’t say anything in the press conference, maybe it changes something, but to me this was not fair, because I just want to fight for the championship with Jorge and let the better man win, but like this that’s not happening. Like I said, I didn’t want to make Marquez crash, but I had to do something because at that moment Jorge was already gone. The championship is not over yet, but this sanction cut me off by the legs and made Marquez win.”

Logically, it is a bit hard to kick down a 150kg-ish bike don’t you think? 

Oh this drama just left me numb.