Marvelous Marquez

Udah bukan rahasia lagi kalau rider idola gue dari jaman dulu ya gak berubah. yak betul—> VALENTINO ROSSI.

Kalau ditanya kenapa gue mengidolakan Rossi? Soal skill ya gak usah ditanya lah. Mau skrg jg udah gak muda lagi, tapi dia juga masih bikin manuver yang gokil saat balap. Seorang Rossi juga memberikan hiburan dan warna tersendiri bagi penggemar motoGP. Mulai dari design helm nya, atau selebrasi kemenangan yang seru-seru. Pokoknya banyak gimmick seru dari The Doctor. Jadi bukan soal jago aja, tapi dia juga menghibur banget!

Tapi ya… meskipun gue ngefans berat sama Rossi, tapi bukan berarti gak liat kelebihan rider lain. Sebagai host di Trans7 tentu gue harus selalu menjaga kenetralan gue. Biarpun gue sering banget dituduh berat sebelah..tapi ya wesbiyasa…resiko pekerjaan lah. Gue sih mikirnya rider-rider motoGP itu memang masing2 punya kehebatan masing-masing.

Salah satu nama yang menurut gue musim ini sangat mencuri perhatian adalah Marc Marquez!

Gue sih ngaku aja, pas insiden Sepang 2015 itu gue sempet KZL sama Marquez. Tapi kan sebagai host, gue gak boleh kelamaan baper ya. Mesti tetep berusaha melihat semuanya dengan obyektif.

Musim 2017 ini gue memang memperhatikan Marquez banget. Dia berubah banget loh. Karena keliatan banget dia dan tim nya amat sangat solid. Marquez nya sendiri jg keliatan punya determinasi tinggi untuk menang, tapi di satu sisi dia juga gak ngotot. Jadi penuh perhitungan. Kalian bisa liat deh, kalo pas free practice tuh keliatan banget kalau Marquez akan push habis2an, Mau sampe jatuh kelontangan kek, ya dilakonin juga. Tapi pas race keliatan banget kalau dia siap. Pas flag-to-flag race dia jago banget strateginya. Tim nya juga solid banget sih..jadi aja sukses terus.

Yang paling keliatan ya pas di San Marino minggu lalu. Situasi race dengan kondisi basah, membuat banyak rider kerepotan. Bahkan Jorge Lorenzo yang sudah leading pun terpaksa harus DNF karena jatuh. Dovi yang begitu digdaya di beberapa seri terakhir juga lebih memilih untuk bermain aman. Petrucci yang kemenangan sudah di depan mata, harus merelakan tahta podium tertinggi untuk Marquez. Karena di saat-saat terakhir Marquez membuat manuver yang bikin gue nganga sik. Momen itulah gue mikir..emang beneran hebat nih Marquez. Hats off for baby alien!

Tuh..yang suka nuduh gue sentimen sama Marquez, baca deh postingan ini. Open your mind & clear your heart. Jangan menuduh tanpa alasan, apalagi kalau ternyata lo gak pernah denger komentar gue secara lengkap..apalagi sekedar cuma ikut2an kesel karena orang bilang ‘katanya’ hahahahah….

Siapapun yang lo idolakan tuh gak seharusnya bikin hati kita jadi tertutup sehingga gak mau melihat kelebihan rider lain.

Kenapa Kurus? Kenapa Enggak?

Musim ini gue memang beberapa kali absen siaran motogp. Alasannya karena pas ada keperluan yang memang harus jadi prioritas. Jadi..kurang lebih selama 2 bulan gue gak tampil di TV dong ya. Selama kurun waktu 2 bulan itu juga, gue melakukan banyak perubahan. Mulai dari pola makan sampai kebiasaan olah raga.

Di beberapa postingan IG gue (yang mana adalah account baru karena yang lama memang sengaja gue hapus) sempat diceritakan dengan singkat apa aja yang gue lakukan untuk menurunkan berat badan. Di antaranya mengurangi konsumsi gula dan tepung, yang memang 2 hal itu adalah yang paling gue suka banget.

Kenapa sik gue pengen kurus? ya siapa yang gak pengen sih punya berat badan yang ideal, punya badan yang sehat? Dampak dari punya badan yang sehat dan berat badan yang ideal kan banyak. Salah satunya jadi lebih percaya diri. Feel good about yourself.

Awalnya karena memang instruktur olahraga gue yang menargetkan untuk menurunkan berat badan sampai dengan 58kg. Awalnya berat badan gue 66-68kg. Sebelum dapet target itu, sebetulnya gue udah pengen banget turunin berat badan ke 65kg. Tapi itu susaaaaaaaah nya minta ampun. Segala macem diet gue coba lah, mulai dari mayo, diet golongan darah, diet juice, no carbs, south beach, GM, diet pisang…pokoknya hampir semua yang gue anggep cocok dengan tujuan gue ya dicoba. Tapi gagal sik…

Sampai kemudian suami gue ngomong tentang makanan kesukaan gue dan kebiasaan makan gue. Kemudian gue pikirin banget apa yang dia bilang. Bener juga. Gue itu suka banget sama segala macem cake, roti, pokoknya yang manis2 gitu lah. Ditambah lagi gue itu SUKA SEKALI MAKAN! Makanya cocok kan punya bisnis makanan? Hahahah….

Setelah diskusi itu, akhirnya gue memutuskan untuk mengikuti kata suami. Gue tidak lagi mengkonsumsi gula dan tepung. Pola makan pun gue benerin. Intensitas olahraga juga gue tambah. Olahraga itu bisa 5 kali dalam seminggu. Alhasil dalam waktu 2 bulan, berat gue turun sampai 53kg. Malah lebih turun dari target yang ditentukan.

Rasanya gimana? Gue pribadi sih seneng banget bisa sampai ke 53kg. Karena tau gak? itu berat badan gue pas sebelum menikah dengan Afit dulu. Percaya gak percaya, timbangan yang berubah itu seperti membuat gue menemukan kembali diri gue yang dulu. Jadi berasa lebih muda lagi. Kayanya aneh ya, kok turun berat badan aja efeknya sampe gitu? tapi itu yang gue rasakan. Impact nya sama sekali gak gue sangka juga sih. Bukan cuma tinbangan yang berubah, tapi scr psikologis ternyata dampaknya besar juga.

Tapi….buat yang ngeliat perubahan gue (yang mungkin bisa dikatakan cukup drastis) tentu mikir macem2. Terutama untuk yang gak kenal banget sama gue, yang tau gue cuma dari melihat postingan gue di social media aja. Ada yang menduga gue sakit lah.. padahal justru gue merasa gak pernah sesehat ini. Ya iyalah asupan makanan gue jaga dan olahraga juga rutin.

Reaksi orang pun juga beda. Ada yang bilang gue tambah cantik, makin muda. Tapi ada juga yang katanya gue lbh bagus chubby. Yah..selera lah ya…

Tapi gue pribadi senang dengan kondisi saat ini. Soal pendapat atau dugaan orang ya bebas- bebas aja sih, toh itu hak siapapun untuk berpendapat. Sebagai orang yang kerja jadi presenter TV, denger pendapat orang baik yang bikin hati seneng atau bikin hati KZL..itu sih WESBIYASA.

What I’m trying to say through this post is : the only person in this world who can make you truly happy is yourself. Do more of what makes you happy ( as long as you’re not hurting others while doing it). People can say whatever they want about you, appreciate their opinion, listen..because you might find something good that could make you improve yourself. But no matter what just don’t let people’s opinion sink your inner voice.

Foto perubahan gue dalam 2 tahun terakhir.

Goodbye 2016, #2017StartsNow

9 different race winners throughout the season, Marc Marquez was crowned as motoGP World Champion once again.


2016 ini memang musim yang cukup seru sih. iya kan? Siapa sangka di musim ini akan ada 9 rider berbeda yang menang?

2016 diawali dengan test pra musim yang bikin beberapa pabrikan geleng-geleng kepala. Peraturan unified software sampai pemasok ban baru Michelin jadi penyebabnya. Honda selama test pra musim keliatan paling kedodoran, ya iyalah…dengan ECU yang biasa dipakai trus beralih ke ECU standar jelas bukan hal yang mudah. Konon salah satu masalah Honda adalah banyak wheelie. Intinya memang Honda keliatan banyak PR nya lah.

Setelah musim 2016 berjalan, ternyata ada senjata (yang gak terlalu) rahasia milik Honda. Senjata itu adalah Marc Marquez. Gue gak ngomongin soal skill balapnya. Kalo itu sih semua juga setuju kalo Marquez hebat banget. Yang menarik perhatian gue adalah attitude Marquez yang berubah. Dia keliahatan lebih dewasa dan tidak emosional. Dia seperti bisa menghitung kapan dia harus ‘push‘ untuk menang, kapan dia harus lebih menahan diri demi mendulang poin. Dan bener aja..konsistensi dan kesabarannya itu membuahkan hasil manis, dia jadi juara dunia tahun ini. Masalah Honda yang gue bilang tadi, seakan gak ada…padahal ya ada banget.

Di 2016 ini juga kita melihat improvement luar biasa dari Suzuki. Gak hanya dibuktikan dengan kemenangan ViƱales di Silverstone, tapi di beberapa seri terakhir kita lihat Aleix Espargaro juga mulai bisa fight. Ducati yang selama ini kedodoran pun semakin menunjukkan kembali powernya. Meskipun belum sempurna, tapi revolusi yang dilakukan Gigi Dall’Igna sepertinya mulai menunjukkan hasil. Plus Ducati juga menggandeng Casey Stoner, rider yang memang dikenal (sampai saat ini) paling bisa menjinakkan Ducati. Di musim 2016 ini pula duo Andrea dari sama-sama berhasil naik podium tertinggi. Iannone menang di Austria sekaligus menghapuskan dahaga juara Ducati yang puasa gelar sejak 2010. Dovi juga mempersembahkan kemenangan di Sepang.

Intinya, rencana Dorna membuat serangkaian regulasi ini adalah untuk membuat motoGP jadi lebih kompetitif. Gak cuma rider-rider tertentu aja yang menang. Menurut gue sih cukup berhasil strateginya. Musim 2016 memang seru untuk diikuti karena banyak hal yang tidak terduga, tapi gak ada drama yang heboh macam 2015 kok. Yang mana itu hal yang bagus juga…karena udah saatnya banget utk move-on lah.

Salah satu yang ditunggu di musim 2016 ini adalah kepindahan rider2 yang habis kontrak. Ada yang pindah pabrikan, ada yang perpanjang kontrak, rider moto2 naik kelas…ah pokoknya musim 2017 tuh sesuatu yang ditunggu banget lah.

Musim 2016 ditutup dengan motoGP award (ini akan tayang siaran tundanya di Trans7 tanggal 20 November jam 2 siang)


Setelah keriaan award berakhir, hari Selasa 15 November 2016 langsung ada Valencia Test hari pertama. Ini mungkin hari yang ditunggu-tunggu para penggemar motoGP khususnya fans Jorge Lorenzo. Karena di hari inilah kita semua akan melihat Lorenzo menunggang motor Ducati untuk pertama kalinya. Dan bener aja, awak media mengerubungi paddock Ducati untuk melihat langsung momen bersejarah ini. 



Setelah bersama Yamaha selama 9 tahun, tentu peralihan ini hal yang besar untuk Lorenzo. Tapi gue bilang sih dia berani banget. Kegagalan Rossi waktu pindah ke Ducati gak menyurutkan niat Lorenzo untuk pindah kubu. Iya…Ducati jaman Rossi dulu memang gak kaya Ducati sejak dipegang Dall’Igna yang konon katanya lebih rider-friendly tapi tetep aja yang namanya penyesuaian itu bukan hal yang mudah. Angkat topi untuk keberanian Lorenzo! Dall’Igna sendiri merasa yakin Lorenzo bisa beradaptasi dengan Ducati. Kelemahan Ducati adalah di sektor mid-corner, sementara Lorenzo adalah salah satu rider yang sangar di tikungan. Pertemuan keduanya diharapkan bisa memberikan improvement. Dari 2 hari test, catatan waktu Lorenzo bisa dibilang cukup memuaskan. bahkan Dall’Igna bilang dia sudah punya ‘clear idea‘ bagaimana pengembangan Ducati selanjutnya yang cocok untuk Lorenzo. Dovi pun catatan waktunya juga bagus.

Selain Lorenzo, yang sangat ditunggu adalah….siapa lagi kalau bukan Maverick ViƱales. Sebagai rider yang menggantikan posisi Lorenzo di Yamaha, tentu ViƱales akan jadi sorotan. Apalagi dia jadi team mate nya Valentino Rossi. ViƱales mungkin pressure nya gede juga ya harus mengisi posisi itu. Tapi kayanya sih dia biasa aja…abis mukanya lempeng aja pas test…seperti biasa sih. Kan dia mukanya memang minim ekspresi. Hasil test ViƱales selama 2 hari rasanya gak lebay kalo gue bilang : IMPRESIF!  Gimana gak impresif? lawong dia mencatatkan waktu tercepat. Buat ‘anak baru’ di kandang Yamaha sih hebat banget. Mungkin ViƱales udah ‘klik’ dengan Ramon Forcada yg sebelumnya jd crew chief Lorenzo. 


Sekarang gue mau ngomongin Suzuki. Untuk musim 2017 ujung tombak mereka adalah Andrea Iannone dan Alex Rins.Secara pribadi gue juga lumayan ngefans sama The Maniac. Kepindahannya dari Ducati ke Suzuki gue tunggu banget. Kemajuan Suzuki plus talenta Iannone bisa jadi ancaman di musim 2017. Alex Rins belum bisa cerita terlalu banyak karena sayangnya di hari kedua dia mengalami cedera bahkan sesi uji coba sampai harus di-red flag. Tapi musim 2017 ini gue pengen banget liat Rins bisa fight sama Zarco juga di kelas motoGP, secara mereka berdua juga bersaing sengit di moto2 2016, jadi pasti pas naik kelas ini akan seru!


Gimana persiapan Yamaha untuk 2017? Kalo kata Rossi sih, mereka udh coba mesin baru denagn chassis baru juga dan ternyata masih banyak perbaikan yang harus dilakukan. Untuk Rossi yang harus diutamakan adalah akselerasi dan kecepatan keluar dari corner.Dari beberapa artikel yang gue baca sih sepertinya The Doctor belum terlalu impress dengan mesin baru Yamaha yang ditest di Valencia. Harapannya saat test di Sepang nanti akan lebih ada pengembangan yang signifikan.


Honda apa kabar? Jadi ya…sebetulnya mereka lumayan tertutup soal pengembangan motor 2017. Yang banyak dibicarakan adalah soal peralihan ke big-bang engine, konon katanya ini akan bikin Honda jadi lebih jinak. Marquez komentarnya senada dengan Rossi. Dia gak cukup puas dengan pengembangan yang dilakukan dan menurutnya masih banyak yang mesti dibenahi. Sementara Pedrosa malah jauh lebih ‘secretive‘ dibanding Marquez.


Kita tunggu aja gimana nanti test di Sepang akhir Januari 2017.

Thank you 2016, this has been a wonderful season. See you soon motoGP 2017!

Sweet Home Misano

Misano World Circuit Marco Simoncelli. Ini memang sirkuit yang punya arti khusus untuk seorang Valentino Rossi. Hanya berjarak kurang lebih 13km dari Tavullia, Rossi menyebut sirkuit ini adalah rumahnya. Makanya dia bilang akan memberikan usaha 120% di #SanMarinoGP . Berlaga di kandang sendiri jelas punya semangat tersendiri sekaligus punya tekanan yang sangat besar juga. Masih lekat di ingatan kita saat Rossi DNF di Mugello, seakan pesta yang sudah disiapkan di sana jd antiklimaks. Tentu Rossi gak mau kejadian lagi di Misano. 

Tensi #SanMarinoGP sudah mulai terasa sejak free practise. Rossi yang sedang melakukan hot lap merasa terhalang oleh Aleix Espargaro. Saking emosinya, Rossi sampai memberikan jari tengahnya kepada Aleix. 


Bukan hanya Rossi, tapi Lorenzo pun sempat menunjukkan kekesalannya kepada…. Marquez 


Drama Misano juga tidak luput dari Iannone yang sempat crash di FP1. Sempat dinyatakan unfit to ride, kemudian terdengar kabar akan dievaluasi ulang kemudian diputuskan lg utk tidak boleh turun di #SanMarinoGP 

RACE DAY! 

Front grid : Lorenzo-Rossi-ViƱales. Lorenzo memang tampil impresif saat kualifikasi. Bahkan dia sempat bilang 

Best lap of my life 

Rossi tampil dgn design helm khusus “sweet home Misano” 


Tampaknya memang serius untuk selebrasi di Misano.

Saat start, Lorenzo lgs melesat. Rossi terus menempel. Sampai akhirnya terjadilah yang lagi diomongin banyak orang : Rossi overtake Lorenzo! 

Rossi terus memimpin sampai akhirnya Pedrosa membuat kejutan. Start di posisi 8, hari itu Pedrosa memilih ban soft untuk roda depan. Hasilnya memang luar biasa. Pedrosa berhasil mengejar Rossi & akhirnya jd juara di Misano setelah terakhir kali naik podium juara di sini pd th 2010. Rossi ada di posisi kedua & Lorenzo ke-3. 

Race selesai, dramanya belom selesai. Pas press conference Lorenzo bilang kalo Rossi overtake nya terlalu agresif. Rossi gak terima, intinya debat lah mereka berdua & Pedrosa nunduk aja sambil ngerasa awkward kali ya *peluk Pedrosa* 

Oke…gimana tanggapan gue? Seperti yang dikatakan Pedrosa saat post race press con, Misano ini sirkuit yang sempit. Jd susah utk melakukan overtake, makanya kalau ada kesempatan ya digunakan. Hal ini juga yang dikatakan Rossi. Lagian kita juga tau kalo Lorenzo udah melesat susat banget dikejar, jd kalo ada kesempatan overtake ya pasti dihajar. 

Terlalu agresif? Coba bandingin sama race di Silverstone deh, itu seru banget overtakenya antara Marquez & Rossi. Crutchlow pun agresif banget.  Overtake yang dilakukan Rossi menurut gue ya biasa aja  

ā€‹ā€‹

Other riders overtake more clean
Gitu katanya Lorenzo. Menurut gue ya gak juga sih. Liat race moto3 yang overtake nya serem deh. Kelas moto2 juga begitu. 

To be fair, this is a race. In a race you HAVE to be agressive to win.

Yang gue liat sih ini bukan masalah overtake. Tapi 2 rider ini memang dari dulu udah bersitegang, jd rasanya isu sekecil apapun bisa jd masalah. Bisa jd juga karena pressure mereka berdua berat. Gak gampang ngejar poin Marquez yg skrg memimpin klasemen. 

Tapi ya namanya juga motoGP, kalo ada drama seperti ini kan jd malah makin seru nontonnya. Jd ya kita sebagai fans ikutan nonton aja, jangan ikutan panas. 



Next race : Aragon, tanggal 25 September 2016

Superb Silverstone

Seperti sudah menjadi pertanda. Sejak FP1 sampai Q2, #BritishGP akan jadi sebuah seri yang tidak terduga. Sebab musababnya apalagi kalau bukan cuaca di Inggris yang mirip dengan perasaan ABG…gampang berubah dan susah diprediksi. Eaaaaa…..

Sesi kualifikasi berlangsung dengan sangat seru dan menegangkan. Iyalah, saat itu cuaca hujan disertai angin yang cukup kencang. Eugene Laverty salah satu rider yang tampil all out saat Q2, hampir saja meraih pole position. Sayangnya dia jatuh di sektor terakhir & akhirnya pole position diraih oleh juara seri Brno—> Cal Cructhlow yang sepertinya masih on fire karena kemenangannya tersebut.

Saat interview pasca kualifikasi, 3 rider yang berada di front row : Crutchlow-Rossi-ViƱales masing-masing menjabarkan strateginya saat kualifikasi dan bagaimana prediksi mereka tentang race hari Minggu 4 September 2016. Crutchlow bilang kalau lagi-lagi pemilihan ban akan jadi kunci kemenangan & faktor cuaca akan menentukan. Dia juga bilang bahwa akan siap tampil maksimal dan berani karena gak ada beban untuk dia. Crutchlow juga sempat bilang bahwa kalau cuaca kering, Ducati akan bahaya sekali.

ViƱales sendiri cukup singkat komentarnya :

On paper, I believe we could win

*Komentar ini sempet gue tweet sebelum race, kemudian ada yang semacam nyelain ViƱales dgn bilang : race di sirkuit , bukan on paper—> HAHAHAHAHA! Eh ViƱales nya bener. Malu tuh yg nyela :p

Rossi cukup jujur menyampaikan komentarnya. Dia bilang kalau saat race cuacanya kering, Yamaha akan ‘struggle’ makanya dia perlu menemukan lagi set-up yang paling tepat untuk bisa tampil maksimal & berharap posisinya di starting grid ini bisa memberi sedikit keuntungan.

IT’S RACE DAY!

Sejak kelas #moto3 , #BritishGP ini memang udah seruuuuuu banget! Wah gue nontonnya udah sampe jejeritan saking serunya gak kelar-kelar. Iya, sayang banget gak bisa ditayangkan…pdhal kelas #moto3 ini bener-bener menegangkan.

Beralih ke #moto2 , wah ini sih banyak juga dramanya. Yang paling bikin gue baper sik pas insiden Zarco dan Lowes. Kasian banget Lowes yang tampil impresif bahkan sejak kualifikasi harus DNF akibat manuver aneh Zarco yang akhirnya diganjar dengan penalti 30 second.

Nih dia nih… kelas #motoGP . Ketegangan sudah dimulai bahkan sesaat setelah race dimulai. di turn 2 terjadi insiden antara Loris Baz dan Pol Espargaro yang menyebabkan race harus di red flag. Alhamdulillah baik Baz dan Espargaro tidak cedera serius akibat kecelakaan ini. Sebelum red flag dikibarkan, ViƱales memang sudah terlihat beda hari itu. Dia langsung melesat & memimpin sampai akhirnya race harus dihentikan dan di-start ulang.

Bahkan saat race di-start ulang pun, ViƱales kembali melesat. Kayanya memang hari itu dia punya sesuatu yang ‘beda’. Lap demi lap yang diisi dengan overtaking yang dahsyat dari Rossi, Iannone, Crutchlow, Marquez….ah pokoknya seru banget sampe tegang banget nontonnya. Rossi dan Marquez lagi2 telibat duel seru, ngotot sih..but it was a fair fight. Crutchlow pun menghadapi fight yang tidak kalah sengit dengan Rossi dan Marquez. Tapi Crutchlow memang hebat banget hari itu, overtake nya WARBIYASAK!

Akhirnya #BritishGP ini melahirkan juara baru yaitu Maverick ViƱales. Davide Brivio yang sepanjang race tampak tegang keliatan lega dan senang sekali. Iyalah… udah lama banget kan Suzuki gak menang. Terakhir adalah tahun 2007 bersama Vermuelen.


Yang menarik perhatian gue dari #BritishGP kali ini adalah bukan soal peraihan poin di klasemen. Kalo itu kan kalian juga udah tau, Marquez masih mempimpin dan Rossi ada di posisi kedua. Kalo gak salah ya, sampai seri ini ada 7 juara berbeda deh…ya gak? Rossi, Lorenzo, Marquez, Miller, Iannone, Crutchlow, ViƱales pernah merasakan ada di podium tertinggi di musim 2016 ini. Sepertinya regulasi baru yang diterapkan DORNA seperti ECU yang distandarisasi membuahkan hasil—> #motoGP jadi lebih kompetitif.
Oya..satu hal lagi yang bikin race di Silverstone minggu lalu jadi makin menarik adalah…karena kita bisa liat sisi Marquez yang familiar. Itu loh… agresif dan nekat. Secara sampe sempet keluar track pas pepet2an sama Rossi kan? Marquez yang di musim ini tampil lbh matang dan sabar kayanya ikutan kebawa agresivitas rider lain yang race nya udah kaya race #moto3 waktu di Silverstone . Tapi gue sukaaa liatnyaaaa!

Next race : Misano, San Marino. Pastikan kalian nonton di Trans7 ya. Akan ada yang spesial banget!

Is It Over?

Gimana reaksi kalian setelah nonton race #GermanGP di Sachsenring kemarin?

Dari hasil pantauan yang gue liat di mention-an twitter dan instagram sih, banyak fans #VR46 yang kecewa, gemas,kesal..gara2nya? ya karena seperti yang kalian lihat sendiri kemarin Rossi tidak mengikuti instruksi tim yang memintanya segera masuk box untuk mengganti motornya. Keputusan Rossi inilah yang dinilai banyak orang sebagai penyebab dia gagal (lagi) menuai 25 poin di seri ini. Sementara fans nya #MM93 nampaknya semakin yakin bahwa rider idolanya ini akan jadi jadi juara  (lagi) dunia musim ini. Dengan gap poin yang sangat jauh, rasanya gak salah-salah banget kalau banyak yang yakin titel juara dunia #motoGP 2016 ini sudah dalam genggaman Marquez.

Sudah dalam genggaman, tapi bukan berarti sudah jadi milik Marquez loh ya. Hahahaha..

Ya..masih ada 9 race lagi yang tersisa di musim ini. Segala kemungkinan masih bisa terjadi. Gimana gue melihat keadaan ini? Oke..gue akan coba menuliskan pemikiran gue seobyektif mungkin dengan melihat data & situasi yang ada sekarang ya. Here we go..

Posisi klasemen sekarang ini adalah sebagai berikut :


Marquez memimpin klasemen sementara dengan poin yang cukup signifikan : 170 poin. 2 rider yang membayanginya adalah Lorenzo & Rossi. Nah sekarang gue mau membagi pengamatan gue tentang 3 rider ini sejak awal musim 2016. Mereka bertiga ini ada perubahan strategi dan emosi loh, paling tidak itu yang terlihat di mata gue.
Sebelum musim ini dimulai, Lorenzo sang Juara Dunia 2015 terlihat sekali punya determinasi tinggi untuk bisa mempertahankan gelarnya di musim ini. Di seri awal dia memang terlihat garang seperti biasa, race tanpa cela..sempurna bahkan di setiap sesi free practice sekalipun. Mungkin puncak kepercayaan dirinya adalah saat dia menang di Mugello, di saat yang bersamaan Rossi mengalami technical DNF. Tapi semuanya seperti berbalik setelah . Justru di ‘rumahnya’ sendiri Lorenzo harus mengalami nasib sial karena terlibat insiden dengan Ianonne yang berujung DNF. Lanjut race di Assen yang berlangsung di bawah guyuran hujan, di sini Lorenzo pun juga tidak segarang biasanya. Pindah ke Sanchsenring yang memang bukan track favoritnya, Lorenzo mengalami banyak kesulitan bahkan sejak FP1 lanjut crash sampai kedua kalinya saat kualifikasi. Lorenzo seperti sedikit kehilangan kepercayaan dirinya.

Rossi nih…hmm…gue mikir, The Doctor ini pasti masih baper lah soal 2015 lalu. Tapi sepertinya dia merubah emosinya itu ke hal yg lbh positif & produktis yairu dgn memasang target utk jd  juara dunia untuk yang ke 10 kalinya. Kalau target ini udah kesampean kayanya dia akan lebih santai, bisa jadi malah mungkin siap-siap pensiun. Keseriusan berburu gelar ini didukung dengan hadirnya Luca Cadalora yang menjadi performance coach untuk The Doctor. Penampilannya di Catalunya menjadi pertanda bahwa “The Doctor still got the moves” ! Fight nya dengan Marquez benar-benar memukau. Seakan membalas DNF nya di Mugello, di CatalanGP kali ini Rossi jadi juara. Di sini gue yakin kalo perburuan gelar juara dunia musim ini akan ketat sekali. Eh tapi kok…di Assen, Rossi malah DNF yang menyebabkan hilangnya poin. Lanjut di Sachsenring yang flag to flag race, Rossi pun gagal finish di podium yang lagi-lagi tidak mendulang poin signifikan untuk mendongkrak posisinya di klasemen sementara.

Nah..Marquez! Rider yang satu ini, di awal musim terlihat agresif seperti biasa. Bahkan sampai seri Catalunya pun gue melihatnya begitu. Banyak jurnalis yang sudah menuliskan bahwa sebetulnya Marquez tahun ini terlihat lebih matang secara emosi dan strategi. Dia akan lebih berkonsentrasi untuk meraih poin di setiap seri, tidak akan memaksakan untuk menang jika resikonya terlalu besar apalagi kalau sampai ada resiko DNF. Ternyata memang benar. Salah satu buktinya adalah, saat race di Assen lalu. Marquez tidak memaksakan diri mengejar Miller yang sudah unggul. Apalagi Rossi sudah DNF, jadi Marquez tidak memaksakan diri. Lagipula Miller pun bukan kontender kuatnya di perebutan gelar juara dunia. Di sini terlihat Marquez memang melihat target besarnya adalah untuk meraih poin, bukan hanya memenangi satu seri aja. Begitu pula saat race di Sachsenring. Gue kagum luar biasa sama kematangan strategi tim Honda Repsol dan Marquez. Saat tertinggal jauh dan merasa kesempatan menangnya sudah sangat minimal, justru di saat itulah Marquez dan timnya memutuskan untuk bertaruh dengan mengganti motor, hasilnya memang manis sekali..Marquez berhasil menang untuk ketujuh kalinya secara berturut-turut di sirkuit ini. Untuk rider dengan usia semuda Marquez, menurut gue dia luar biasa banget sih. Kematangan emosi dan strateginya itu yang mesti diwaspadai pesaingnya.

Seperti yang Matteo bilang, rider yang sudah merasa unggul (dalam hal ini Marquez) tentu tidak punya beban. Apalagi poinnya jauh banget gini. Karakter rider seperti Marquez ini, saat dia unggul tentu bukan berarti dia akan santai dan males-malesan ya, justru dia akan lebih santai di tiap race. Santai artinya dia akan balapan dengan lebih maksimal. Tentu tugas lebih berat ada di pundak Lorenzo dan Rossi yang sepertinya akan merasa terbebani untuk harus bisa tampil sempurna di sisa 10 race yang ada demi mendulang poin dan mengikis ketertinggalan poin dari Marquez…sukur2 bisa mengungguli.

Di atas kertas, Marquez punya kans lebih besar untuk jadi juara dunia tahun ini. Tapi Lorenzo dan Rossi bukanlah rider kemarin sore yang mentalnya gampang melempem setelah serangkaian kegagalan yang dialami. So it is definitely far from over. Masih ada 9 race lagi di mana kita bisa menyaksikan kehebatan para rider motoGP tahun ini, terutama dari 3 rider yang gue tulis ini. Kesimpulan postingan ini? motoGP season 2016 is definitely one the season you don’t want to miss. Be sure to watch every series with your eyes open. 

See you on the next race : Red Bull Ring, Austria. August 14th 2016.

#CatalanGP 2016

Salah satu race #motoGP yang paling memorable menurut gue adalah “Battle of Barcelona” antara Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo yang terjadi di musim 2009. Sejak saat itu gue selalu berharap race seperti itu bisa terulang lagi. Tapi ternyata beru kejadian kemarin. Tahun 2016 ini. Lama yaaa… but it was worth waiting for.

#CatalanGP diawali dengan kejadian tragis yaitu Luis Salom yang mengalami kecelakaan di turn 12 saat menjalani FP2 & akhirnya #Mexicano39 ini pun menghembuskan nafas terakhirnya setelah mengalami luka dalam yang cukup parah & cardiac arrest.


Akibat kejadian ini, Pihak Dorna konon meminta ijin dari keluarga Salom untuk bisa meneruskan seri ini. Jika pihak keluarga tidak memberikan restu, ada kemungkinan seri ini akan dibatalkan. Ternyata pihak keluarga Salom berbesar hati untuk memberikan restu meneruskan seri ini. Kemudian Safety Commission mengambil langkah cepat untuk segera merevisi layout sirkuit. Turn 12 & turn 10 mengalami perubahan. Akhirnya bentuk sirkuit menggunakan layout F1. Kemudian sempat timbul reaksi protes karena perbahan ini membuat sirkuit menjadi low speed dan memberikan keuntungan untuk pabrikan tertentu.

Melihat kejadian ini, jujur gue sempet bingung gimana harus bereaksi. Sempat menduga, aura race ini pasti jd gak enak. Sangat disayangkan juga ketika ada rider yang mengeluhkan masalah ‘competitiveness’ setelah ada kejadin fatal yang dialami Salom. Harusnya fokus utama pasca kejadian itu adalah keselamatan semua rider. Meskipun kalau boleh jujur, sesungguhnya tidak akan pernah ada cara untuk mebuat olahraga ini 100% aman untuk rider. Selalu ada resiko besar yang membayangi para rider setiap kali mereka race.

THE RACE DAY

Diawali dengan penampilan impresif Valentino Rossi saat warm-up. Pas di ruang make-up Matteo bilang :

Rossi is quick in warm-up & you know that means he’s very dangerous

Kemudian kita berdua pilih jagoan siapa yang akan menang #CatalanGP , Matteo pilih Rossi & gue pilih Marquez. Tapi ini semua kita lakukan off air, biar pada gak taruhan kata Matteo. Hahahahha…..

The race starts!Ealaaaah… Rossi jelek banget start nya. Mulai dr posisi 5 di grid, dia mulai melorot ke posisi 7 atau 9 di awal race. Kemudian pelan-pelan dia mulai menunjukkan taringnya. Overtake spektakuler mulai dilakukan, bahkan ada yang melewati 2 rider sekaligus. Sementara Lorenzo sudah memimpin dengan bayang-bayang Marquez dan Pedrosa. Bukan tugas mudah untuk Rossi membuka jalan untuk menyusul Lorenzo. Sampai akhirnya…Lorenzo sepertinya mengalami masalah dengan mesinnya dan lama2 speed nya menurun. Singkat cerita Rossi akhirnya berhasil merangsek ke posisi terdepan. Di 5 lap terakhir terjadilah pertarungan sengit antara Rossi dengan Marquez, 2 rider yang punya sejarah hubungan yang kurang baik pasca Sepang Clash 2015 lalu. This is a battle of pride between these 2 great riders.

Marquez keliatan sekali sudah mencapai limitnya, sementara The Doctor seperti masih punya strategi, kekuatan mesin & mental yang extra hari itu. Akhirnya pertarungan kali ini dimenangkan oleh Valentino Rossi. Marquez ada di posisi 2 dan Pedrosa ada di posisi ke 3. Sementara Lorenzo mengalami nasib kurang baik, terpaksa DNF akibat bertabrakan dengan…….. yak! dia lagi…. The Maniac : Iannone.

Kemenangan ini terasa manis untuk The Doctor yang 2 minggu sebelumnya gagal berpesta di kandangnya sendiri di Mugello akibat technical DNF yang dialaminya. Sudah cukup manisnya? Oh belum. Manisnya #CatalanGP makin terasa ketika Rossi (akhirnya) salaman dengan Marquez di parc ferme. Ketegangan keduanya terasa sekali kalau sudah mencair. Kejadian ini tentu menarik perhatian media yang hadir di Catalunya. Saat press conference pasca race digelar, timbul pertanyaan apakah dengan ‘handshake’ tadi artinya hubungan Rossi dan Marquez membaik?


Jawaban Rossi :

When these things [Salom’s accident] happen, all the rest becomes not very important. Very small.So I think it was the right thing to do.

Marquez pun sependapat :

It was a really difficult and sad weekend for MotoGP. But in the end, on Sunday, I like that it was the atmosphere of a MotoGP family again. When we were together on the grid [for the minute’s silence] and the way all the riders dedicated their race to Luis.

In the grandstands everybody was supporting all the riders. Full of respect, because we are taking a lot of risks. Another thing that for me was important was to shake hands again with Valentino. I’m happy about this

Gue setuju sekali. Marquez benar. Mulai dari rider kelas #moto3 #moto2 dan #motoGP saat race day benar-benar terlihat seperti keluarga besar. Kepergian Luis Salom yang mungkin mengingatkan mereka akan hal itu. Banyak sekali tribut yang dilakukan para rider untuk mengenang #Mexicano39 & semua itu sangat mengharukan.


#CatalanGP 2016 is one race weekend everyone will remember for a very long time. Not just about the spectacular battle, but all riders & paddock crew come as one big family. Where frozen relationships finally melts & (hopefully) becomes warm once again.

Thank you #motoGP riders for showing us that positivity is what we need to enjoy the sport.

 

Sportif

Kurang lebih sudah 10 tahun gue jadi host motoGP di Trans7. Banyak hal yang berubah, banyak hal yang gue pelajari. Setiap tahun, gue mengevaluasi apa yang bisa gue lakukan untuk bisa jadi host yang lebih baik. Dari segi knowledge tentu harus semakin mendalami. Dari segi teknik presenting harus semakin informatif, menghibur dan obyektif. 

Tapi selama hampir 1 dekade ini, gue hampir tidak pernah lepas dari komentar negatif beberapa orang yang (mengaku) fans fanatik rider tertentu. Gue bilang beberapa karena memang gak banyak. Alhamdulillah jauh lebih banyak penonton motoGP yang memberikan apresiasi positif untuk gue. Tapi justru yang sedikit ini membuat gue berpikir…

Kata2 (yang menurut mereka) kritik dilontarkan tiap mereka merasa apa yang gue atau Matteo sampaikan tidak sesuai dengan apa yang mereka (ingin) dengar.

Contohnya yang paling hangat ya pas #FrenchGP di Le Mans kemarin. 

Matteo sama Lucy nih ketauan banget belain Rossi. Sama Lorenzo aja sentimen banget

Padahal gue yakin 100% kalau kita berdua tidak melakukan itu. Kenapa? Karena sejak FP 1 sampai kualifikasi, Rossi memang tampil buruk & hal itu kita bahas. Lawong Rossinya aja pas post-race interview juga mengakui kalo dia memang gak bagus. Sementara Lorenzo benar-benar maksimal & mendominasi. Bahkan gue inget banget pas on-air Matteo bilang :

Perfect weekend untuk Lorenzo & dia pantas untuk menang

Jadi bagian mana yang ngebelain Rossi banget? 

Kemudian ada juga yang mention gue di twitter, katanya gak terima Lorenzo dikatain sama sebuah akun fans Rossi. Padahal fan base Rossi yg gue kenal baik gak bad mouthing siapa-siapa. 

Inti permasalahan dari semua cerita di atas adalah : F A N A T I S M E. 

Semua yang suka motoGP pasti punya rider favorit. Bahkan gak sekedar favorit, tapi fanatik. Fanatisme terhadap seorang rider sebetulnya hal yang sangat wajar. Tapi fanatisme itupun bisa jd sumber penyulut emosi. Fanatisme membuat seseorang sulit melihat sesuatu dr sudut pandang yang obyektif. Parahnya, orang lainpun dianggap salah…bahkan dianggap musuh jika punya pendapat yang dianggap merugikan idolanya. Padahal belum tentu. Bisa jadi yang diungkapkan sesungguhnya benar, tapi fanatisme menutupi obyektifitasnya. 

Betul. Apa yang ada di pikiran orang lain, tidak bisa kita duga apalagi kita kontrol. Adalah hak para fans untuk membela rider idolanya meskipun mungkin dengan mengeluarkan pendapat yang tidak obyektif atau standar ganda. Yah…kalo sekedar gak obyektif sih gak papa deh. Yang gue sulit memahami adalah, kenapa harus sampai memaki rider lain, memusuhi komunitas yang berseberangan atau bahkan memaki pemandu acara olahraganya? 

Eh soal dimaki sih gue udh biasa & gak pernah gue masukin hati juga. Anggep aja ladang pahala gue. Tapi, untuk para fans yang senang sekali mengeluarkan emosi negatif…pertanyaan gue cuma 1 : emangnya gak capek? 

Speaking badly about other riders will not make your favorite rider won the world championship & certainly will not make you a better person. 

Atau jangan-jangan, ngomongin hal negatif itu demi memuaskan ego diri sendiri? 

Seperti yang kalian tahu, gue fans berat Valentino Rossi. Tapi di saat gue tampil di TV, gue berusaha semaksimal mungkin untuk bisa obyektif. Kalau gue bela mati & gak obyektif, ngapain gue selalu bilang kalo Rossi start nya gak sekuat Lorenzo? Ngapain gue garisbawahi kesalahan strateginya saat kualifikasi di #FrenchGP ? Mestinya gue cari pembenaran dari segala sisi. Ngapain gue muji Lorenzo & Marquez bahkan ViƱalez?

Pun gue sudah berusaha seobyektif mungkin, gue mendapat kritik : 

OOOOO..Jadi sekarang udh beralih dari Rossi ke Lorenzo? Ke Marquez juga? 

 YAELAH BROOOOO! 

Gitu aja terus sampe tahun baru kuda. 

Ini yang gue maksud dengan fanatisme itu membuat kita memfilter utk mendengar apa yang ingin kita dengar. Bukan yang sebenarnya. Fanatisme seperti memberi legitimasi untuk memaki, membenci yang tidak sepaham dengan kita. Padahal ini motorsport. Olahraga. Yang konon idealnya dilakukan dengan penuh sportivitas. Yang sebetulnya gak berhenti hanya di ridernya aja sih, tapi sampai ke kita..para fansnya. 

Balik lagi, semua punya pilihan masing2. Tapi gue merasa nonton motoGP jd semakin menyenangkan kalau hati kita juga gak panas, gak cela2an atau berseteru dengan fanbase rider lain.

Bisa? Bisa banget. Karena gue sudah membuktikannya. Dari beberapa fanbase rider yang gue kenal baik, mereka bisa kok ngobrol baik2 dan bahkan saling support. Saat meet up pun kita bisa seseruan sambil ketawa2an. 

You can show your support to your favorite rider  yet still show some respect towards other riders. Put aside all the negativity & enjoy the race. 


#motoGP 2015

Satu lagi musim #motoGP gue lewati bareng Trans7. Kayanya musim 2015 ini adalah ke-8 kalinya gue jd host di Trans7.

Dari sekian pengalaman siaran #motoGP di Trans7, tahun ini adalah yang paling berkesan buat gue. Ya iyalaaaah! Di tahun inilah gue bisa mewujudkan mimpi untuk ketemu langsung dengan rider-rider hebat di kelas moto3,moto2 dan motoGP tentunya.

Gue bisa merasakan sendiri indahnya sirkuit Phillip Island di Melbourne-Australia. Ikut menjadi bagian keseruan jurnalis internasional meliput balap motor paling bergengsi di dunia ini. Efeknya ke gue? gue jadi semakin cinta dengan dunia motoGP. Tentu jd pengen ngeliput di lapangan terus sih šŸ˜œ

Untuk pertama kalinya juga Trans7 akhirnya bisa melaporkan langsung dari sirkuit. Bukan cuma lewat telpon, tapi pemirsa bisa melihat langsung gue melaporkan dari salah satu sudut sirkuit sekaligus dari depan podium Phillip Island. Kesempatan luar biasa buat gue.Tahun 2015 ini ditutup dengan siaran bareng Matteo Guerinoni lagi untuk motoGP award 2015.

Terima kasih banyak utk semua tim motoGP Trans7 untuk kerja kerasnya selama musim 2015 ini. Salut untuk Pak Produser, Tim Kreatif, Editor, Camera Person, Komentator handal Joni Lono Mulia & presenter quiz si cantik Claudia Soraya dan semua yang terlibat. Semoga kita bisa kerjasama lagi di motoGP 2016.  

    
   

#TheGrandFinale

Setelah semua drama #SepangClash akhirnya #ValenciaGP menobatkan Jorge Lorenzo sebagai juara dunia motoGP 2015 . 

Lorenzo memang telah menunjukkan dominasinya sejak di FP sampai kualifikasi. Bahkan dia mencetak fastest lap 1:30.011 di Q2.

The best lap of my life

Begitu kata Jorge. Ironisnya, di saat Jorge tampak begitu santai dan yakin menang…Rossi justru jatuh saat Q2 

Sejak mengamati Rossi di FP Jumat, gue kagum sih. Keliatan sekali dia berusaha keras untuk mendapatkan set-up motor yang optimal. Set-up memang sangat penting  utk race di Valencia karena dampaknya adalah ke efisiensi ban. Tapi sayangnya Rossi harus mengakhiri sesi Q2 dengan low-side. 

IT’S THE RACE DAY! FINAL RACE OF THE SEASON! 

Gak biasa-biasanya banyak jurnalis berkumpul di grid belakang. Biasanya posisi front row lah yang banyak disorot. Penyebabnya Valentino Rossi. Semua mata memang tertuju pada Jorge Lorenzo & Valentino Rossi. Mungkin Rossi ceritanya lbh menarik karena dengan keuntungan 7 poin di atas Jorge sebelum #TheGrandFinale , di race pamungkas ini The Doctor akibat akumulasi penalti poin harus start di posisi 26. 

Melihat catatan waktu sampai Q2, di atas kertas udh pas gelar juara dunia 2015 menjadi milik Jorge. Dia pole position, strong starter & konsistensinya luar biasa. Vale? Dia harus melewati banyak rider. Meski gue fans Rossi tapi berdasar performance.. 99,9% gelar juara milik Jorge. 

Benar saja, saat race dimulai Jorge lgs melesat dengan dibayangi duo Honda : Marquez & Pedrosa. Kamera lbh sibuk menyorot perjuangan Rossi yang startnya sangat baik di race final ini. 7 rider langsung dilewati. Satu demi satu rider di-overtake. Sampai akhirnya Rossi sampai ke posisi 4. Sayangnya, gap antara Rossi dan Pedrosa yang di posisi 3 saja sudah sangat jauh. Mustahil utk terkejar. Beda ceritanya kalau race ini terjadi di era motoGP yg belum secanggih skrg elektroniknya. 

Rossi hanya bisa bertahan di posisi 4. Sementara di top 3, Pedrosa memang sempat drop lap times nya karena katanya sih menyimpan ban. Marquez jadi rider yang sangat manis, berbeda sekali dengan gayanya di Sepang yang begitu agresif. Sebetulnya Marquez yang gue tau, selalu punya determinasi tinggi untuk menang. Bahkan lap times nya pun lbh baik dr Lorenzo di lap-lap akhir. Tapi akhirnya keluar juga sih ciri khas Marquez yg balapnya ‘galak’, tepat ketika Pedrosa ingin melakukan overtake dan mendekati Marquez bahkan Lorenzo…tapi dengan sigap Marquez menutup jalurnya. Tapi mungkin aja Marquez mengikuti unwritten rule yg konon mengatakan utk menghormati rider yg sedang race utk gelar juara dunia. 

Akhirnya Lorenzo finish di podium tertinggi sekaligus mengukuhkan diri jd juara dunia motoGP musim 2015. Ini adalah gelar juara dunia ke-3 utk Lorenzo. Vamos Jorge! 

  
pic courtesy of : Jorge Lorenzo official twitter account

Melihat lap times & manuver ke Pedrosa, jujur gue berpikir : apa Marquez mengawal Lorenzo? Yatapi lap times kan cuma data yang gak bisa membuktikan apa2. Pasca race, Rossi menggelar press conference & menyatakan kekecewaannya terhadap Marquez : 

http://www.foxsports.com/motor/story/motogp-valentino-rossi-valencia-reaction-marc-marquez-110815

Tidak sedikit orang yang melihat keanehan di #TheGrandFinale ini. Banyak komen yang seakan memojokkan Marquez, tapi ada juga komen yang mengkritik Rossi seakan ingin menyatakan bahwa dia adalah sore loser. 

Sepang aja sampe skrg masih rauwis-uwis debatnya. Masa nambah materi debat lagi? Mana yang benar?  Tidak ada yang tau. Bisa jadi tuduhan Rossi pasca race benar, bisa juga tidak. Mestinya Rossi bisa menahan diri? gak usah ngomong seperti itu? Menurut gue…haknya Rossi utk menumpahkan kekesalan, sama halnya Marquez juga punya hak utk race dgn gaya apapun dan dengan motif apapun. Kita adalah penonton yang masing2 punya penilaian yang bisa jd obyektif atau sangat subyektif. Apakah #TheGrandFinale tontonan yang seru, antiklimaks, memalukan, menyedihkan atau membanggakan? Semua tergantung pandangan masing2 dan kita tidak bisa memaksakan pandangan kita ke orang lain.

Sama juga dgn tanggapan penonton. Gue pun meski sudah sangat berusaha netral, tetap mendapat beberapa hujatan karena dianggap gak netral, bahkan dapet makian kasar. Padahal gue paham banget masing2 rider punya fans fanatik yg gampang panas…makanya gue selalu hati2, tapi ya nyatanya masih aja ada yg kasar mulutnya. Silakan aja sih mau berpendapat apa, mau memaki juga boleh. Toh yang memaki juga gak akan mendapat apa2 kok, gak akan bikin dirinya lbh baik juga dr yg dihujat. Rasa kemenangan kecil yang didapat dari menghujat cuma sesaat kok, sisanya cuma hati yg selalu panas dan gak tenang krn penuh rasa benci. Akhirnya? Capek sendiri…

Gue lbh memilih utk melihat sisi baik #ValenciaGP .Capek sendiri kalo terus menerus membungkus hati dgn rasa marah & kekesalan plus ngajak berantem orang yang dianggap gak sepaham pemikirannya. Gue lbh suka melihat kerja keras Valentino Rossi merangkak dr posisi 26 sampai akhirnya sampai di posisi 4. 

He showed us that he’s a real fighter. He inspired me to never stop trying no matter how hard things are.

Ternyata gue bukan satu2nya yang mengagumi kerja keras Rossi di #TheGrandFinale . Tapi ternyata banyak sekali orang yang mengagumi usahanya di hari itu. 

You are the people’s CHAMPION,Vale! 

There’s much more dignity in defeat than in the brightest victory -Phoenix-

  
Pic courtesy : Yamaha Indonesia