(gak) GOLPUT (lagi)

Sebelumnya, gue ngaku dulu. Dulunya gue bangga menyatakan kalo gue golput.

Alesannya jadi golput? Mungkin kurang lebih alasannya sama kaya orang-orang yang memilih untuk jadi golput juga :

Gue gak rela memberikan suara gue ke orang yang gak amanah, yang ujung2nya malah korupsi. Ngapain? Suara gue terlalu berharga untuk disalahgunakan.

Milih pun gak akan ngerubah apa2. Paling keadaannya akan sama2 aja.

2 alasan itu emang jadi alasan gue utk jadi golput. Dulu.

Sebagai orang yang hidup di Jaman Orde Baru, gue merasakan banget betapa membosankannya PEMILU. Pesta Demokrasi itu gak lebih dari sekedar jargon-jargon kosong yang minim pelaksanaan. Di jaman OrBa, parpol cuma ada 3. Kita semua udah tau lah aturan mainnya, tanpa ada quick count pun pasti udah tau parpol mana yg menang. Gak usah pake PEMILU juga udah ketauan sik siapa pemenangnya. Hahahhahaha…..

Keadaan itulah yg mungkin membuat gue dan sekian banyak orang lainnya berpikir PEMILU gak ada gunanya, makanya mendingan gak usah ngapa2in. Padahal ya, pas jaman OrBa itu tiap ada penghitungan suara (yang udah pasti pemenangnya) , dalam hati gue selalu berharap ada keajaiban. Partai lain bisa menang dan keadaan Indonesia bisa berubah. Sebenernya pas jaman itu gue ya gak kenapa2. Masih belum ngerti apa2 juga kali ya. Yang gue tau keadaan selalu (tampak) aman terkendali, dollar cuma 2000 perak, belajar soal GBHN dan Repelita di sekolah keliatannya negara ini baik2 aja. Tapi gue pun mulai denger soal sisi lain negara ini pada jaman orba, selentingan soal orang ilang lah, perilaku subversif yg bisa berujung di penjara atau hilangnya nyawa, tapi ya denger aja. Sampai puncaknya kejadian Mei 1998 atau yg lebih dikenal sama era REFORMASI. Saat itu gue udah kuliah, terbukalah semua kemasan masa orde baru itu. Dan ternyata kita gak pernah bener2 bebas. Terutama untuk bicara dan berekspresi, terutama soal politik.

Sekarang kita sampai pada PilPres 2014. Kalian pasti liat lah, gimana meriahnya pendukung Prabowo dan Jokowi menyerukan dukungan untuk capres jagoannya. Gue sendiri mendukung Jokowi dengan sukarela, tanpa bayaran sepeser pun. Alasannya sederhana, gue liat dia mau kerja. Keunggulan Jokowi adalah dr sisi pengalaman kerja. Logika gue sih, dia kan pernah jadi Walikota terus lanjut jadi Gubernur..kalo InsyaAllah terpilih jadi Presiden RI, beliau punya insight dan pengalaman yang mumpuni mulai dr level walikota sampai level nasional.  Untuk melihat track record Jokowi, gue berulang kali cari info soal hasil kerjanya di Solo. Ternyata dia memang meninggalkan kesan yang sangat baik utk masyarakat Solo.

Sebenernya ya, Jokowi itu istimewanya apa sih? DIA KERJA. Karena kita keseringan liat pejabat yg gak kerja, seringnya liat yg korupsi, yang selalu dilayani bak raja kecil padahal mestinya dia yg melayani masyarakat, seringnya kita liat pejabat yg kesannya jauh sekali dr rakyat. Jokowi merubah semua persepsi itu. Dia jadi luar biasa karena muncul di antara sekian banyak sosok2 pejabat yang udah melenceng dari pakemnya. Mestinya ya pejabat itu ya kaya JKW, kerja, melayani rakyat dan deket sama rakyatnya. Biasa aja kan? Tapi karena udah jaraaaang banget pejabat yg gitu, makanya Jokowi jadi terlihat fenomenal.

Guepun cukup kagum dengan ide Jokowi-JK untuk buka rekening sumbangan utk kampanye mereka. Obama pernah melakukan hal ini, tapi di Indonesia baru Jokowi-JK yg pertama memulai. Konsep penggalangan dana ini, menurut gue sih bukan sekedar ngumpulin uang, tapi lebih dari itu. Jokowi-JK pengen ngajak rakyat utk berdaya, ini pembuktikan koalisi rakyat yg sesungguhnya. Sekaligus langkah awal Jokowi-JK mencoba mebuktikan ke kita semua kalo mereka memang kuat karena rakyat. Karena hal2 itulah gue secara terbuka menyatakan dukungan untuk Jokowi-JK. Sesuatu yang buat gue sangat baru, gak pernah dilakukan sebelumnya. Pas Pemilukada DKI udah sih sebenernya hehehehe….

Alasan2 itulah yg membuat gue mendukung beliau. Ketika secara terbuka menyatakan dukungan, gue juga dapet ‘serangan’ kok. Dicurigai dibayar, udah pasti. Tiap tweet hasil kerja Jokowi, disamber sama akun2 gak jelas yang melemparkan segala rupa kampanye hitam. Awalnya gue emosi dan kesel. Tapi lama2, gue mikir….justru pilpres ini menyenangkan banget! Mungkin ini sebabnya dinamakan Pesta Demokrasi, karena emang seru! gue menikmati orang2 saling bertukar gagasan, bertukar argumen mendukung capresnya masing2. Tinggal pilihannya ada di kita sih, mau dukung dengan santun atau rusuh.

Ini semua gak pernah terjadi di era Orde Baru. Terserah deh gue mau dibilang norak kek, militan kek, fanatik kek, tapi yang jelas menurut gue ini saatnya gue bersuara. Dan momen ini gue tunggu sejak jaman orde baru dulu. Inget loh ya, mendukung bukan berarti memuja sampai buta fakta. Gue juga gak pernah setuju dengan konsep pengkultusan individu. Jokowi juga bilang kan, kalo dia jd Presiden yang penting adalah manajemen pengawasan. NAH! ini akan kita tagih janjinya!

Kenikmatan bebas menyatakan dukungan dan sikap politik inilah yang bikin gue gak golput lagi. Terus terang gue gak lagi merasa keren dengan jadi golput. Justru gue ngerasa dengan memilih, gue jadi bagian dari bangsa ini, gue peduli dengan bangsa ini. Gue udah dapet banyak hal baik dr negri ini, masa sih gak mau kasih kontribusi sedikitpun?

Boleh aja sih mau tetep golput, konon kan katanya itu hak. Mungkin pengen dianggap beda alias anti-mainstream. Ya rapopo. Tapi inget, negara ini bisa merdeka karena jasa orang2 yg mau bergerak, mau berjuang, mau bertindak. Negara ini bisa jadi lebih baik kalo kita peduli dan mau bersuara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s