Warung Culture

Gue dan Afit memang sengaja milih konsep warung pas awal kita buka Holycow! STEAKHOUSE by Chef Afit. Awalnya krn memang hanya konsep itu yg pas dengan jumlah modal yg kita punya. Tapi setelah kita jalan sejak lebih dr 2 taun lalu..kok..ternyata ‘warung’ ini punya filosofi yang menarik.

Yg udah pernah mampir di warung kita, pasti tau lah…seperti apa rasanya. Dibandingkan dengan restoran, jelas tidak senyaman itu. Bahkan bukan tidak mungkin lo akan berbagi meja dengan orang lain, yang ini gue pun sering mengalami kok 🙂

Sejak awal, gue dan Afit tau bener sampai batas mana kemampuan kita. Gak mungkin lah kita mengandalkan pada kekuatan kapital berupa uang semata. Jadi kalau kita fokus bikin tempat yang mewah, kinclong..mau dilapis emas temboknya..beberapa hari lagi akan ada pemilik usaha lain dgn modal lain yg lbh besar yang bisa bikin tempat berkali-kali lipat lebih mewah..lebih kinclong..bahkan mungkin bukan temboknya aja yg dilapis emas..tapi sampai ke lantainya pun bisa dilapis emas.

intinya sih, gak akan ada habisnya kalau kita kuat2an dgn modal uang saja. Pengusaha yang lebih banyak uangnya drpd kita…banyaaaak!

Balik lagi ke filosofi warung di atas. Bisa dibilang itu adalah satu aset dr usaha gue dan Afit.
Buat gue pribadi, konsep warung itu Indonesia sekali.

Coba deh, kalo kita mampir ke Warung Tegal, Warung Mie Instan atau Warkop atau warung2 sederhana lainnya…ada kesamaaan di antara warung2 itu. Itu adalah : KEBERSAMAAN.
Kita bisa duduk bersebelahan dengan siapapun, gak ada tempat khusus yg privat untuk kita bisa mengeksklusifkan diri. Semua tamu di warung dilayani dengan baik oleh si pemilik warung, sekali lagi.. tanpa kecuali. Obrolan2 santai khas warung juga seperti bisa menyatukan para pengunjung yang mungkin saja sebetulnya mereka sebelumnya tidak saling mengenal.
Para pengunjung datang untuk menikmati makanan yang tersedia, bahkan kadang si pemilik sudah hafal menu favorit masing2 langganannya.

Gak tau kenapa ya, tapi gue kok seneng banget dengan konsep itu. Sederhana tapi buat gue di warung itu orang bisa nyaman jd dirinya sendiri. Mau dateng ke warung dandan kek, mau belum mandi kek, mau artis kek, pejabat atau mahasiswa…semuanya mendapatkan pelayanan sebaik mungkin tanpa kecuali.

Pernah ada cerita menarik dr org yg berbagi meja di warung kita, sama sepasang suami istri yg sudah sepuh. Orang ini dateng sama temen2nya. Rame2 ngobrol dan akhirnya pasangan suami istri itupun sesekali ikutan ngobrol, padahal ya sebelumnya mrk gak saling kenal.
Pasangan suami istri itupun pamit duluan, Nah pas org yg semeja ini td mau bayar bonnya dia..ternyata malah udh dibayarin sama pasangan suami istri td.
Yg pas ada pasangan yg lagi PDKT trus taunya duduk semeja sama Pak Mentri sama istrinya, juga ada…kebayang itu pasti makin deg2an makannya :)))

Selalu ada cerita menarik saat kita berani membuka diri untuk kenal dengan orang baru. Kita gak pernah tau teman baru ini akan membawa berkah atau ilmu baru apa untuk kita. Konsep inilah yang sebetulnya pengen banget kita terapkan di warung kita. Kadang2 kita terlalu terbiasa mengeksklusifkan diri dan enggan berinteraksi, sampai lupa betapa banyaknya yg bisa kita dapat saat kita mau membuka diri.

Makanya, di salah satu Camp kita yaitu yg di Senopati..kita sengaja mempertahankan keadaannya seperti saat pertama kali buka dulu. bahkan kursi dan mejanya ya tetap sama, supaya kita sendiri gak lupa juga konsep awal usaha kita..yaitu berangkat dr kesederhanaan.

20120912-113513.jpg

Advertisements

2 thoughts on “Warung Culture

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s