M A R U N D A

Hari ini lagi2 gue mendapat kesempatan luar biasa untuk melihat sisi lain Jakarta.

Marunda. aslik..seumur2 gue belum pernah menginjakkan kaki ke tempat ini. Cuma pernah denger..itupun pas berkunjung ke dunia fantasi.

Kenapa ke Marunda? “Pagi Jakarta” ingin mengangkat soal pencemaran Teluk Jakarta yang katanya sudah sampai pada tahap yang mengkhawatirkan!

Sesampainya di Marunda, pemandangan kontras langsung terlihat. Rumah2 sangat sederhana para nelayan yang tidak beraturan akibat penggusuran bersanding dengan pabrik2 industri besar yang megah dan kinclong. Terlihat juga tanah lapang yang menurut informasi sudah siap untuk dijadikan Zona Ekonomi Khusus..dengan kata lain zona untuk industri besar..nelayan? ke laut aje!

Gue,tim “Pagi Jakarta” dan mas Bagus (WALHI) tiba di rumah Pak Tiarom, salah seorang nelayan yang sejak lahir sudah bermukim di kawasan Marunda. Pak Tiarom lah yang akan mengajak kita melihat dari dekat pencemaran yang terjadi di kawasan Marunda.

 

Lalu kita semua jalan menuju kapalnya. Kapal kayu butut,dengan mesin yang sudah berkarat..yang menjadi alat satu2 nya untuk melaut mencari nafkah bagi istri dan 3 orang anaknya. Di dekat kapal itu tergelar jaring yang penuh lumut. Sambil membersihkan jaringnya dr lumut2 itu, beliau bilang gini “yah,saking tercemarnya Teluk Jakarta..sekarang saya harus melaut sampai 2-3 km jauhnya. Dulu cuma 50m ikannya sudah berlimpah. bahkan saat saya 8 tahun,di sini banyak mangrove..saya tinggal lompat ke air,tangkap udang pakai tangan..dapetnya banyak sekali”

Untuk 1 kali melaut,kebutuhan solar,makan,dan lain2 bisa menghabiskan biaya Rp.150 .000,- Sedangkan hasilnya? paling 20-30 ribu per hari! untuk melaut,Pak Tiarom berangkat jam 3 sore dan baru pulang jam 6 pagi keesokan harinya..dan dia hanya sendirian di tengah laut.

Di situ juga gue melihat hasil tangkapan Pak Tiarom hari itu. Seember rajungan kecil yang dihargai Rp.40 ribu. Kebayang.. beratnya usaha beliau untuk mendapatkan seember rajungan itu.

Menggunakan kapal Pak Tiarom,kita semua menyebrang ke bagian lain dari Kampung Marunda Kepu. Bagian lain itu ya gak lebih baik juga sih..justru yang kita lihat adalah Pantai Marunda,yang ternyata kalo pas libur Lebaran bisa dikunjungi 1000 orang lebih utk berwisata. Mau lihat pantainya? Nih…

Sepanjang pesisir,isinya sampah!

Kontribusi terbesar pemcemaran lingkungan di Marunda adalah industri dan dari warga. Warga sekitar? justru warga sekitar Marunda itu yg menerima dampak akhir dari warga yg hobinya buang sampah di kali..semua bermuara di situ. Justru warga Marunda Kepu,seminggu sekali melakukan kerjabakti untuk mengumpulkan sampah2. Hebatnya lagi,warga Marunda Kepu dan Walhi secara swadaya mengumpulkan uang untuk menanam mangrove.

Sempat terlihat juga rusun yang nampak terbengkalai. “kenapa bapak gak tinggal di situ aja?’ (notes: rumah Pak Tiarom sangat sederhana,bahkan lantainya pun tanah..tidak bertegel)

 

Pak Tiarom menjelaskan bahwa pembangunan rusun itu tidak didahulukan dengan dialog bersama warga nelayan. plus sewa yg mahal. plus gak ada air bersihnya! gimana sih???

Walikota Jakarta Utara terdahulumpernah menjanjikan untuk membuat Marunda Kepu sebagai perkampungan nelayan,bahkan sang Walikota sudah menunjukkan blue print nya. eh,sampai beliau akhirnya lengser..gak ada realisasinya. Bahkan,Marunda itu termasuk dalam 12 destinasi wisata Pemprov DKI Jakarta..kan ada kampungnya Si Pitung (info ini juga gue dapet dari Pak Tiarom,dia nih nelayan yg pinter banget)

Terus? apa sih yang diharapkan oleh nelayan2 Marunda Kepu? Pak Tiarom khsusunya? bantuan uang? BUKAN!

Beliau cuma ingin lingkungan laut di Marunda jadi lebih sehat, pemerintah melakukan upaya untuk melakukan tindakan tegas nagi pabrik2 yang sembarangan membuang limbahnya tanpa mengolahnya terlebih dahulu. Lingkungan laut yang sehat tentunya akan memudahkan mereka untuk mencari nafkah.

Pak Tiarom hanya ingin akses sekolah dan puskesmas yang mudah. “jangankan gratis,sekolah dan kesehatan yg bayar aja susah aksesnya”

Perjalanan ke Marunda memang mengajarkan banyak hal untuk gue. bahwa ternyata,ketidakmampuan kita menjaga kelestarian lingkungan hidup ternyata berdampak besar bagi orang lain. yang buang sampah di sungai,mungkin gak akan sadar kalo tindakannya akan merusak ekosistem di hilir..dalam hal ini laut. Pengusaha yang punya pabrik kinclong tadi..gak mikir bahwa limbah pabriknya justru menghambat rejeki nalayan2 utk menghidupi keluarganya.

Pelajaran terpenting? Walaupun keadaan Pak Tiarom terhimpit kesulitan yg luar biasa,toh beliau berusaha keras menghidupi keluarganya. Berjuang spy anak2nya bisa sekolah. Tengah malam buta melaut sendirian,sulit menpatkan hasil krn laut tercemar. Tapi itu semua dilakoni,asalkan halal katanya.

Pak Tiarom tidak menjual kesedihan, meskipun saat melihat rumahnya yg sangat sederhana..bahkan sebentar lagi akan digusur utk proyek penghijauan BKT. Tidak sekalipun keluhan keluar dari bibirnya. Tidak ada ungkapan prihatin dari kata2 nya. Beliau cuma ingin lingkungan Marunda kembali seperti dulu.

 

 

 

 

 

Advertisements

One thought on “M A R U N D A

  1. veren4ever says:

    Miris banget Tante bacanya.Emang yah pemerintah DKI Jakarta ini ga mikirin nasib rakyat kecil.Yang bermodal besar bisa dengan mudahnya menyingkirkan rakyat kecil 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s