Sumarmi the Superwoman

Ibu Sumarmi,seorang penjaja Jamu Gendong yang berjualan di kawasan Bekasi. Tiap hari,beliau bangun jam 3.30 pagi untuk menyiapkan racikan jamunya. Setelah semua persiapan jualan jamunya selesai,bu Marmi langsung berkeliling menjajakan jamu buatannya menggunakan motor.
Bu Marmi berjualan sampai jam 1 siang,setelah itu dia masih membuat kue2 jajanan pasar untuk dijual sebagai penghasilan tambahan.
Sibuk? itu baru kegiatan jualannya. Belum lagi tugas Bu Marmi sebagai ibu rumah tangga,yg harus bebersih rumah,masak,mencuci,mendidik anak,melayani suami dan lain sebagainya.

Mendengarkan cerita Bu Marmi tentang semua kegiatannya,bikin gue bingung sendiri. Kok dia bisa bagi waktunya ya? Soal capek,jangan ditanya..kalau gue yang jadi Bu Marmi,mungkin gue udah ‘njoprak’ di rumah sakit. Tapi Bu Marmi? gak terlihat ada kelelahan sedikitpun di wajahnya.

Segelas kecil jamunya dijual seharga Rp.1000,- yang gelasnya agak besar Rp.2000,- gue tanya,”Apa gak rugi cuma dijual 1000 bu?” jawabnya, “cukup mbak,cukup utk bayar kontrakan rumah,sekolah anak,makan,nabung dan kirim untuk orang tua di kampung”
Dengan harga semurah itu,bahkan tidak jarang banyak pelanggan Bu Marmi yang kasbon alias hutang dulu. Yang tidak mau bayarpun juga ada.
Ketika gue tanya lagi,berapa gelas jamu yang bisa dia jual setiap hari? Bu Marmi juga tidak tahu pasti. “pokoknya ya kalo semua jamu di botol sudah habis,ya saya pulang. Saya tidak menghitung berapa gelas”

Mendengar cara berdagang Bu Marmi ini pun,bikin gue makin bingung. Pasti beliau mengerti konsep berdagang paling dasar. Bahwa berdagang itu tentu harus ada profitnya (meskipun kecil) . Tapi beliau bahkan tidak menghitung jumlah pasti berapa gelas yg terjual,kasbon2 atau pelanggan yang gak bayar apa tidak mengganggu kelancaran arus kas? Strategi Pemasaran? waaah….mungkin sama sekali gak kepikiran.

Ibu Marmi,dengan kesederhanaannya baik dalam penampilan,konsep berdagang,pemikirannya..justru mengajarkan banyak hal.
Seorang ibu dengan 2 orang anak yg harus membantu suami mencari nafkah untuk keluarganya. Toh beliau tetap sempat mengasuh anaknya,memasak..semuanya tanpa bantuan babysitter/pembantu.
Berdagang dengan semangat,walaupun hasilnya mungkin tidak seberapa..kadang dikasbon..kadang pelanggannya kabur..tapi tetap bisa mencukupi kebutuhan bahkan bisa menabung.
Tidak ada strategi pemasaran nan canggih dan kreatif yg bisa kita tiru dari Ibu Marmi,tapi konsistensi,dedikasi dan keJUJURan nya dalam berdagang rasanya patut dicontoh.
Bagaimana beliau bisa menjalankan semua tantangan dalam hidupnya dengan hati yang ikhlas,tanpa banyak mengeluh.

Bagaimana dengan kita?

20110424-100635.jpg

ps: saking polosnya ibu Sumarmi ini,bahkan pas gue minta foto bareng,dia merem melulu..gak dapet2 momennya :p

Advertisements

2 thoughts on “Sumarmi the Superwoman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s